Masih Mengeluh? Think Again

Bismillaahirahmaanirrahiim


Sebelum kita mengeluh tentang terjebak dalam kemacetan yang panjang, sebelum kita mengeluh tidak memiliki cukup uang untuk membeli gadget atau barang-barang lain, sebelum kita mengeluh untuk sejuta hal kecil lainnya, mari kita luangkan waktu untuk merenungkan kelimpahan berkah yang Allaah Taala telah beri pada kita. Betapa banyak yang Allaah berikan pada kita? Nikmat kesehatan, nikmat keluarga, semua nikmat Allaah telah berikan pada kita, termasuk yang paling sempurna adalah nikmat Iman yang menyejukkan. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (Q.S. Ar Rahmaan: 13).
Allaah mengulangnya sebanyak 31 kali agar kita selalu ingat. Agar kita tak pernah lupa untuk selalu bersyukur, dalam kondisi apapun. Dan memang seharusnya begitu.

Melihat anak ini, saya jadi termenung. Lidah ini serasa kelu, kekuatan besar di dalam hatinya dan antusiasme yang menggelora ia tunjukkan pada hari pertama di sekolah. MasyaAllah, azzamnya amat kuat :') Mari kita senantiasa berdo'a bahwa Allah Taala memberinya yang terbaik untuk kesehatan dan semua kekuatan yang ia butuhkan untuk menyelesaikan masa-studinya, dan untuk tumbuh menjadi Muslimah mengagumkan, in syaa Allaah:')

Jannah untukmu, adik tersayang. Jannatul Firdous. Aamiiiin

Jiwa-jiwa Perindu Syurga


  
Sukses itu ketika Allaah tidak meninggalkanmu untuk bergerak sendirian, dan gagal adalah ketika Allah meninggalkanmu untuk mengurus dirimu sendiri.”
-‘Ibn Al Qayyim- 


Mendengar kata sukses, seringnya kita terkaburkan akan definisi sukses itu sendiri. Kebanyakan orang menganggap bahwa sukses itu ketika punya rumah mewah, harta berlimpah, atau istri yang berlimpah pula (?). Tidak salah sih sebenarnya, tapi apa sukses yang kita bayangkan hanya sesempit itu? Mungkin kita pernah membayangkan bagaimana rasanya tinggal di syurga, menikah dengan bidadari yang bermata jeli, atau merasai pertemuan dengan Ilahi Rabbi.  Menurut saya, itu adalah sukses yang sebenarnya, trusted, dan tidak ada tipu-tipu. Sedikit catatan ini akan menceritakan pengalaman seorang sahabat, perindu syurga yang pernah ‘jatuh’ dan merasakan masa-masa terberat dalam hidup sebelum beliau –insyaa Allaah- mendapati hidupnya dalam kesuksesan. Tetapi, sebaik-baik kesuksesan adalah sukses dunia dan akhirat, tidak hanya sukses dunia.

Kami berada dalam ranah yang sama; ranah Bidikmisi ITB, berasal dari daerah terpencil, jauh dari keramaian, pun dari hiruk pikuk udara perkotaan. Tingkat pertama perkuliahan di ITB merupakan masa-masa paling labil yang dialami mahasiswa. Di sisi lain, Indonesia sekarang sedang dihangatkan dengan bisnis MLM, Multi Level Marketing, sebuah prospek bisnis yang menjanjikan. Siapa yang tidak tertarik dengan bisnis ini, bisa dapat uang dengan cara mudah. Tarik orang untuk mendaftar, kemudian orang yang kita rekrut akan merekrut lebih banyak orang lagi, dan seterusnya, dan seterusnya. Sehingga dengan itu uang kita di rekening akan berkembang biak dengan sendirinya. Enak, kan? Nah dalam perspektif Islam sendiri –walaupun ini khilafiyah- masalahnya tidak se-simple itu. Yakinkah kita kalau uang yang kita dapatkan halal atau haram? Tentu ini menjadi sebuah keragu-raguan. Padahal masyarakat Indonesia merupakan penganut madzhab Imam Asy-Syafi’i yang secara jelas bahwa Beliau adalah orang yang sangat berhati-hati pada hal-hal yang bermakna Syubhat (ragu-ragu). Terus gimana donk? Tentunya kita harus lebih jeli lagi, harus mengetahui dasar hukum dalam Islam sebelum kita memutuskan suatu hal. Wallahu a’lam bishshawwab.

Sahabat saya ini belum mengetahui hal tersebut sehingga beliau mengambil resiko untuk ikut MLM yang ditawarkan kakak tingkatnya. Mulai dari uang pendaftaran yang terbilang tidak murah, ditambah lagi seorang sahabat ini ikut segala macam seminar-seminar yang diadakan perusahaan MLM tersebut. Dalam seminar-seminarnya dihadirkan banyak orang-orang yang katanya sudah sukses dalam bidang MLM ini. Nah ini membuat beliau semakin tertarik dan kian semangat untuk ikut. Mulai dari sini beliau mengajak teman-teman beliau untuk bergabung. Hasilnya? Seorang sahabat menghabiskan uang sekitar 6 juta rupiah –angka ini tidak sedikit bagi mahasiswa bidikmisi- yang uang tersebut diambil dari berbagai macam sumber, alias hutang. Kebetulan beliau ini orangnya giat dalam berwirausaha, apalagi jika ada danus (dana usaha) dari berbagai macam Unit Kegiatan Mahasiswa di ITB. Sehingga beliau menggunakan uang tersebut untuk investasinya di MLM. Kuliahnya terbengkalai akibat ikut seminar-seminar yang ada, hutang berlimpah, ibadah terlalaikan, sedangkan beliau tidak mendapatkan hasil apa-apa. Beliau juga sering makan –atau tidak sama sekali- hanya dengan nasi dan kecap karena uangnya habis untuk bisnisnya. Beliau bingung harus dengan cara apa melunasi hutang-hutangnya.

Di akhir perkuliahan semester I beliau mulai merenungi perbuatan yang beliau lakukan. Seorang sahabat kecewa dan kesal dengan dirinya sendiri. Ia sadar bahwa perbuatannya salah, ia takut jika orangtuanya mengetahui hal ini pasti menimbulkan kekecewaan yang teramat sangat. Akhirnya ia bertaubat atas kesalahannya; malamnya ia isi dengan sujud dalam-dalam, air mata pertanda taqwa bercucuran dari pelipisnya, beragam do’a tercurah dari bibirnya. Ia menginsyafi diri. Libur semester di kampung halaman beliau gunakan untuk menjumpai ustadz-ustadz dan guru-guru SMA-nya untuk meminta solusi atas permasalahan yang beliau hadapi. Mereka memberi petuah-petuah kepada sahabat saya dengan lemah lembut dan kasih sayang. Ada satu pernyataan yang paling saya ingat dari gurunya.


“Kalau kamu mau sukses, maka kamu harus bisa menghadapi masalah yang sebagian besar orang tidak bisa menghadapinya. Kamu harus kuat. Allah selalu memberi jalan untuk orang shaleh seperti kamu.”
 



Kata-kata itu membuat kita yang mendengarnya akan merinding dan terharu. Kita jadi merasa masalah-masalah yang selama ini kita hadapi belum ada apa-apanya dibandingkan masalah yang dihadapi seorang sahabat ini. Cerita beliau ini memotivasi kita untuk bergerak lebih banyak dari bicara kita, untuk lebih berhati-hati dalam segala tindakan yang kita ambil, dan untuk mencintai dan mensyukuri apa yang kita miliki.
Inna ma’al ushri yushro, Akhi. Sungguh di tiap masalah yang kita hadapi, Allaah senantiasa menyajikan beragam solusi atas permasalahan kita. Masalah ini pertanda kecintaan Allaah padamu, pertanda level imanmu yang akan meningkat. Bersabarlah.”

Hanya itu yang bisa saya katakan kepada seorang sahabat yang semangatnya membuat kita iri, yang cintanya kepada akhirat melebihi cintanya kepada dunia. Maka pembicaraan hari itu ditutup dengan awan yang teduh menyelimuti ukhuwah kita, angin yang berhembus mesra di tiap desahan nafas, pun dengan dedaunan yang mengharu biru hati kita.

Maka jadilah kita sekokoh-kokoh iman; yang menasehati kala bersalah, yang bertindak atas keteguhan hati, yang niat tulus tak tergoyahkan nafsu semu. Jadilah kita sebaik-baik insan; yang mencintai dengan setulus hati, yang menyayangi dengan sepenuh jiwa, yang hadirnya selalu dinanti-nanti. Jadilah kita sekuat-kuat ukhuwah; yang dengan cinta kita saling bermesra di jalan-Nya, yang dengan harmoni kasih di jalan ini kita saling berpeluk hangat dalam dakwah. Maka jadilah kita jiwa-jiwa perindu syurga; yang insyafnya pertanda taqwa, yang bicaranya menyemangati, yang lebih sering mendengar daripada berbicara, yang lebih banyak bertindak nyata daripada berorasi di dunia maya. Maka ketahuilah Akhi, bahwa aku mencintaimu karena Allaah.


Musibah adalah sapaan halus, yang dengannya engkau mendekat dan mengingat Tuhanmu, bukan ujian jika sudah tahu jawabannya, ujian menguji agar pribadi teruji, jika bukan dengan gesekan-gesekan memilukan, lalu dengan apakah lagi pisau matahatimu akan ditajamkan, dan akan peka untuk melihat, dengan keindahan semesta alam.
-Khadimul Qur’aan-
 

Amal Jama'i; Sebuah Ajakan



“Persatuan islam bukanlah sebuah mimpi, tapi sebuah cita-cita yang suatu saat nanti pasti terlaksana atas ridhoNya”

Amal jama’i bukanlah bekerja sendiri-sendiri dalam suatu kelompok. Amal jama’i adalah suatu pekerjaan oleh orang-orang yang terstruktur, satu komando, satu perintah, dan ada spesialisasi da’wahAmal Jama’i (gerakan bersama) secara bahasa berarti “sekelompok manusia yang berhimpun bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama.” Al-‘amalul al-jamaa’i berarti bekerja sama berdasarkan kesepakatan dan bekerja bersama-sama sesuai tugas yang diberikan untuk memantapkan amal. Jadi, Al-‘amalul al-jamaa’i mendistribusikan amal (pekerjaan) kepada setiap anggota berdasarkan potensi yang dimilikinya untuk mencapai tujuan.

Dalam kehidupan, amal jama’i (gerakan bersama) adalah sebuah kemestian. Tidak ada satu orang pun dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan pertolongan orang lain. Orang yang kaya membutuhkan si miskin untuk membantu tugas-tugas sehari-harinya. Orang miskin pun membutuhkan orang kaya.
Jika dalam kehidupan saja kita tidak terlepas dari amal jama’i, maka dalam sebuah perjuangan mencapai tujuan tertentu, atau cita-cita tertentu, maka amal jama’i lebih sangat dibutuhkan. Para pendahulu kita dahulu tidak mungkin dapat mewujudkan Indonesia Merdeka tanpa adanya amal jama’i (kerja sama). Demikian juga, sehebat apapun seorang Nabi atau Rasul tidak mungkin dapat mewujudkan negara Madinah tanpa adanya kerja sama antara kaum muslimin, terutama kaum Muhajirin dan Anshar. Oleh karena itu kerja sama atau amal jama’i mutlak dilakukan dalam mewujudkan sebuah cita-cita atau tujuan.

Dengan demikian, amal jama’i ini memiliki beberapa buah ciri sebagai berikut:
1. Aktivitas yang dijalankannya harus berdasarkan keputusan jamaah
2. Mempunyai sistem organisasi yang lengkap dan aktivitas dijalankan secara rapi dan tersusun
3. Tindakan dan kegiatannya sesuai dengan strategi pendekatan yang telah digariskan oleh jamaah
4. Seluruh kegiatannya bertujuan untuk mencapai cita-cita yang telah ditetapkan bersama

Kemudian, tujuan dari amal jama’i antara lain:
1. Distribusi pembagian tugas (Tau zii’ul ‘amal)
2. Meringankan beban da’wah (Tahfiiful a’baaidda’wah)
3. Menumbuhkan potensi (tau thifuthaqqah)

Lalu, apa sebenarnya yang mengharuskan kita ber-amal jama’i? Untuk tahu lebih dalam mengenai alasan ber-amal jama’i, mari kita simak ulasan berikut ini:

Pertama, Dustur Illahi. “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Q.S Ali Imran: 104). Dalam ayat ini Allah telah mengisyaratkan tentang wajibnya melaksanakan dakwah secara amal jama’i.

Kedua, karena amal jama’i adalah tabiat alam (natural). Tata surya adalah amal jama’i. “Ada yang memimpin dan ada yang dipimpin.” Amal Jama’i adalah sebuah sunnatullah. Bangsa semut tidak dapat membuat sarang atau menyimpan makanan tanpa adanya kerjasama di antara mereka. Bila kita melihat kehidupan semut, betapa mereka ulet dan saling bergotong royong dalam bekerja. Bahkan bila seekor semut bertemu dengan kawannya dia berhenti sejenak dan saling besalaman. Demikian juga pada kehidupan lebah, mereka mempunyai tugas masing-masing dalam mengembangkan dirinya dan di antara mereka tercipta kerjasama yang harmonis dalam bekerja.

Ketiga, karena manusia adalah makhluk sosial. Meskiupun nabi Adam telah disediakan segala kenikmatan surga, namun beliau masih saja merasa kurang jika tidak ada teman dalam hidupnya. Sehingga Allah menciptkan Hawa sebagai teman hidupnya. Demikian pula kita dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat hidup sendiri, melainkan membutuhkan bantuan orang lain.
Keempat, Dakwah secara jama’ah adalah dakwah yang paling efektif dan sangat bermanfaat bagi Gerakan Islam. Sebaliknya da’wah secara sendirian akan kurang pengaruhnya dalam usaha menanamkan ajaran Islam pada umat manusia.

Kelima, ber-amal jama’i (bergerak secara bersama) akan memperkuat orang-orang yang lemah dan menambah kekuatan bagi orang-orang yang sudah kuat. Satu batu bata saja akan tetap lemah betapapun matangnya batu bata tersebut. Ribuan batu bata yang berserakan tidak akan membentuk kekuatan, kecuali jika telah menjadi dinding, yaitu antara batu bata yang satu dengan yang lain telah direkat dan ditata secara rapi. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (Q.S Al Maaidah: 2).

Jikalau kita mencoba mendalami dan kembali kepada sejarah di masa-masa nabi, tepatnya d masa-masa antara nabi isa dan nabi Muhammad, menurut sebuah riwayat, jarak di anatara kedua utusan Allah itu sekitar 7 abad. Kurun waktu yang begitu lama tersebut ternyata membawa sebuah dampak bagi umat manusia pada waktu itu. Mereka yang pada awalnya sudah dapat ternaungi oleh islam, lama-kelamaaan perilaku dan sifatnya bergeser kembali ke masa-masa jahiliyah.

Dengan merenungkan cerita di atas, sudah sepantasnya kita melihat kurun waktu sekarang, di mana banyak sekali pergeseran-pergeseran yang seringkali tidak kita sadari. Sebuah kebaikan jika pergeseran itu membuat kita semakin dekat dengan Illah, namun alangkah meruginya jika pergeseran-pergeseran yang terjadi ini justru semakin menjauhkan diri kita dar Allah, Tuhan Semseta Alam.
Oleh sebab itu, sudah saatnya kita senantasa bermuhasabah diri dengan apa yang telah dan akan kita lakukan. Dengan muhasabah diri, diharapkan kita dapat senantiasa mendekatkan diri dari Allah.

***

Apakah itu amalan jama’i?
Jika kita membicarakan pengertian amalan jama’i, ada tiga kunci yang menjadi landasan utama pengertian dari amalan jama’i, yaitu :
1. Sebuah amalan yang dikerjakan secara bersama-sama
2. Terorganisir
3. Berlandasakan pada kesepakatan/musyawarah/syuro
4. Dalam sebuah amalan jama’I ada beberapa hal yang harus ada keberadaannya, yaitu:
    a. Pemimpin
    b. Yang dipimpin
5. Manhaj/landasan
6. Seorang pemimpin yang baik adalah seorang yang mampu mengkoordinir para jundinya, Ketika seorang jundi mendapatkan sebuah amanah yang bukan spesifkasinya, maka harus ada pembelajaran sehingga para jundi tidak akan menolak dengan amanah yang akan diberikan. Seorang jundi yang baik adalah yang mampu memahami tugas yang diberikan oleh pemimpinnya., namun bukan berarti hal ini membuat sang pemimpin dapat bertindak semena-mena, karena tetap dasar dari kegiatan amalan jama’I adalah Quran dan sunnah.
Ada sebuah hubungan timbal balik antara seorang pemimpin dengan yang dipimpin. Sebuah amalan jama’I juga harus berlandasakan pada suatu manhaj. Ketika sebuah kelompok telah menyepakati sesuatu, maka setiap anggota dalam syuro maupun musyawarah wajib melaksanakan hasil kesepakatan syuro.

Di zaman sekarang, banyak sekali bermunculan perbedaan pendapat di dalam sebuah kegiatan dakwah, sehingga orientasi yang seharuasnya terfokus pada ajaran islam justru bergeser menjadi ajang perlombaan untuk menjadi ormas islam terbaik. Oleh karena itulah, menjadi kewajiban kita adalah mempersatukan beberapa perbedaan itu dengan amalan jama’i.  Dengan amalan-jama’i diharapkan maksud dan tujuan dakwah yang sebenarnya dapat dikembalikan lagi.

Bagaimana bisa amalan jama’i mempersatukan umat islam?
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad:
Umat nabi Muhammad akan mengalami lima fase:
1. Fase Kenabian
2. Fase khulafaur rosyidin
3. Fase kerajaan-kerajaan islam (mulai goyah)
4. Fase dikatator (syariat islam tidak ada sama sekali)
5. Fase Kehdupan setelah mati (syariat islam akan muncul lagi)

Sebuah riwayat lain mengatakan bahwa di hari akhir nanti ada 7 golongan dan satu-satunya golongan yang masuk surga adalah ahli sunnah wal jamaah. TItik utama dari beberapa hadits dan riwayat ini adalah bahwasanya orang yang masuk golongan ahli sunnah wal jamaah berpegang teguh pada al quran, sunnah, ijma. Cara mempersatukannya adalah kembali lagi kepada Al Quran dan as sunnah. Lalu? Ada di fase manakah kita? Jelas, kita sedang berada di fase ke empat. Di mana syariat islam hamper dan bahkan tidak ada sama sekali.
=================================================================
Referensi :
Etika Jamaah
Paradigma Baru Dakwah Kampus

Source:
http://kammistksbandung.wordpress.com/2013/03/16/pentingnya-amal-jamai/
http://kmmp.faperta.ugm.ac.id/2012/07/halaqoh-amaan-jamai/


BismiLlaah, semoga bermanfaat; jangan lupa komen untuk perbaikan ke depannya :)

Thursday, 2 January 2014

Masih Mengeluh? Think Again

Bismillaahirahmaanirrahiim


Sebelum kita mengeluh tentang terjebak dalam kemacetan yang panjang, sebelum kita mengeluh tidak memiliki cukup uang untuk membeli gadget atau barang-barang lain, sebelum kita mengeluh untuk sejuta hal kecil lainnya, mari kita luangkan waktu untuk merenungkan kelimpahan berkah yang Allaah Taala telah beri pada kita. Betapa banyak yang Allaah berikan pada kita? Nikmat kesehatan, nikmat keluarga, semua nikmat Allaah telah berikan pada kita, termasuk yang paling sempurna adalah nikmat Iman yang menyejukkan. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (Q.S. Ar Rahmaan: 13).
Allaah mengulangnya sebanyak 31 kali agar kita selalu ingat. Agar kita tak pernah lupa untuk selalu bersyukur, dalam kondisi apapun. Dan memang seharusnya begitu.

Melihat anak ini, saya jadi termenung. Lidah ini serasa kelu, kekuatan besar di dalam hatinya dan antusiasme yang menggelora ia tunjukkan pada hari pertama di sekolah. MasyaAllah, azzamnya amat kuat :') Mari kita senantiasa berdo'a bahwa Allah Taala memberinya yang terbaik untuk kesehatan dan semua kekuatan yang ia butuhkan untuk menyelesaikan masa-studinya, dan untuk tumbuh menjadi Muslimah mengagumkan, in syaa Allaah:')

Jannah untukmu, adik tersayang. Jannatul Firdous. Aamiiiin

Thursday, 9 May 2013

Jiwa-jiwa Perindu Syurga


  
Sukses itu ketika Allaah tidak meninggalkanmu untuk bergerak sendirian, dan gagal adalah ketika Allah meninggalkanmu untuk mengurus dirimu sendiri.”
-‘Ibn Al Qayyim- 


Mendengar kata sukses, seringnya kita terkaburkan akan definisi sukses itu sendiri. Kebanyakan orang menganggap bahwa sukses itu ketika punya rumah mewah, harta berlimpah, atau istri yang berlimpah pula (?). Tidak salah sih sebenarnya, tapi apa sukses yang kita bayangkan hanya sesempit itu? Mungkin kita pernah membayangkan bagaimana rasanya tinggal di syurga, menikah dengan bidadari yang bermata jeli, atau merasai pertemuan dengan Ilahi Rabbi.  Menurut saya, itu adalah sukses yang sebenarnya, trusted, dan tidak ada tipu-tipu. Sedikit catatan ini akan menceritakan pengalaman seorang sahabat, perindu syurga yang pernah ‘jatuh’ dan merasakan masa-masa terberat dalam hidup sebelum beliau –insyaa Allaah- mendapati hidupnya dalam kesuksesan. Tetapi, sebaik-baik kesuksesan adalah sukses dunia dan akhirat, tidak hanya sukses dunia.

Kami berada dalam ranah yang sama; ranah Bidikmisi ITB, berasal dari daerah terpencil, jauh dari keramaian, pun dari hiruk pikuk udara perkotaan. Tingkat pertama perkuliahan di ITB merupakan masa-masa paling labil yang dialami mahasiswa. Di sisi lain, Indonesia sekarang sedang dihangatkan dengan bisnis MLM, Multi Level Marketing, sebuah prospek bisnis yang menjanjikan. Siapa yang tidak tertarik dengan bisnis ini, bisa dapat uang dengan cara mudah. Tarik orang untuk mendaftar, kemudian orang yang kita rekrut akan merekrut lebih banyak orang lagi, dan seterusnya, dan seterusnya. Sehingga dengan itu uang kita di rekening akan berkembang biak dengan sendirinya. Enak, kan? Nah dalam perspektif Islam sendiri –walaupun ini khilafiyah- masalahnya tidak se-simple itu. Yakinkah kita kalau uang yang kita dapatkan halal atau haram? Tentu ini menjadi sebuah keragu-raguan. Padahal masyarakat Indonesia merupakan penganut madzhab Imam Asy-Syafi’i yang secara jelas bahwa Beliau adalah orang yang sangat berhati-hati pada hal-hal yang bermakna Syubhat (ragu-ragu). Terus gimana donk? Tentunya kita harus lebih jeli lagi, harus mengetahui dasar hukum dalam Islam sebelum kita memutuskan suatu hal. Wallahu a’lam bishshawwab.

Sahabat saya ini belum mengetahui hal tersebut sehingga beliau mengambil resiko untuk ikut MLM yang ditawarkan kakak tingkatnya. Mulai dari uang pendaftaran yang terbilang tidak murah, ditambah lagi seorang sahabat ini ikut segala macam seminar-seminar yang diadakan perusahaan MLM tersebut. Dalam seminar-seminarnya dihadirkan banyak orang-orang yang katanya sudah sukses dalam bidang MLM ini. Nah ini membuat beliau semakin tertarik dan kian semangat untuk ikut. Mulai dari sini beliau mengajak teman-teman beliau untuk bergabung. Hasilnya? Seorang sahabat menghabiskan uang sekitar 6 juta rupiah –angka ini tidak sedikit bagi mahasiswa bidikmisi- yang uang tersebut diambil dari berbagai macam sumber, alias hutang. Kebetulan beliau ini orangnya giat dalam berwirausaha, apalagi jika ada danus (dana usaha) dari berbagai macam Unit Kegiatan Mahasiswa di ITB. Sehingga beliau menggunakan uang tersebut untuk investasinya di MLM. Kuliahnya terbengkalai akibat ikut seminar-seminar yang ada, hutang berlimpah, ibadah terlalaikan, sedangkan beliau tidak mendapatkan hasil apa-apa. Beliau juga sering makan –atau tidak sama sekali- hanya dengan nasi dan kecap karena uangnya habis untuk bisnisnya. Beliau bingung harus dengan cara apa melunasi hutang-hutangnya.

Di akhir perkuliahan semester I beliau mulai merenungi perbuatan yang beliau lakukan. Seorang sahabat kecewa dan kesal dengan dirinya sendiri. Ia sadar bahwa perbuatannya salah, ia takut jika orangtuanya mengetahui hal ini pasti menimbulkan kekecewaan yang teramat sangat. Akhirnya ia bertaubat atas kesalahannya; malamnya ia isi dengan sujud dalam-dalam, air mata pertanda taqwa bercucuran dari pelipisnya, beragam do’a tercurah dari bibirnya. Ia menginsyafi diri. Libur semester di kampung halaman beliau gunakan untuk menjumpai ustadz-ustadz dan guru-guru SMA-nya untuk meminta solusi atas permasalahan yang beliau hadapi. Mereka memberi petuah-petuah kepada sahabat saya dengan lemah lembut dan kasih sayang. Ada satu pernyataan yang paling saya ingat dari gurunya.


“Kalau kamu mau sukses, maka kamu harus bisa menghadapi masalah yang sebagian besar orang tidak bisa menghadapinya. Kamu harus kuat. Allah selalu memberi jalan untuk orang shaleh seperti kamu.”
 



Kata-kata itu membuat kita yang mendengarnya akan merinding dan terharu. Kita jadi merasa masalah-masalah yang selama ini kita hadapi belum ada apa-apanya dibandingkan masalah yang dihadapi seorang sahabat ini. Cerita beliau ini memotivasi kita untuk bergerak lebih banyak dari bicara kita, untuk lebih berhati-hati dalam segala tindakan yang kita ambil, dan untuk mencintai dan mensyukuri apa yang kita miliki.
Inna ma’al ushri yushro, Akhi. Sungguh di tiap masalah yang kita hadapi, Allaah senantiasa menyajikan beragam solusi atas permasalahan kita. Masalah ini pertanda kecintaan Allaah padamu, pertanda level imanmu yang akan meningkat. Bersabarlah.”

Hanya itu yang bisa saya katakan kepada seorang sahabat yang semangatnya membuat kita iri, yang cintanya kepada akhirat melebihi cintanya kepada dunia. Maka pembicaraan hari itu ditutup dengan awan yang teduh menyelimuti ukhuwah kita, angin yang berhembus mesra di tiap desahan nafas, pun dengan dedaunan yang mengharu biru hati kita.

Maka jadilah kita sekokoh-kokoh iman; yang menasehati kala bersalah, yang bertindak atas keteguhan hati, yang niat tulus tak tergoyahkan nafsu semu. Jadilah kita sebaik-baik insan; yang mencintai dengan setulus hati, yang menyayangi dengan sepenuh jiwa, yang hadirnya selalu dinanti-nanti. Jadilah kita sekuat-kuat ukhuwah; yang dengan cinta kita saling bermesra di jalan-Nya, yang dengan harmoni kasih di jalan ini kita saling berpeluk hangat dalam dakwah. Maka jadilah kita jiwa-jiwa perindu syurga; yang insyafnya pertanda taqwa, yang bicaranya menyemangati, yang lebih sering mendengar daripada berbicara, yang lebih banyak bertindak nyata daripada berorasi di dunia maya. Maka ketahuilah Akhi, bahwa aku mencintaimu karena Allaah.


Musibah adalah sapaan halus, yang dengannya engkau mendekat dan mengingat Tuhanmu, bukan ujian jika sudah tahu jawabannya, ujian menguji agar pribadi teruji, jika bukan dengan gesekan-gesekan memilukan, lalu dengan apakah lagi pisau matahatimu akan ditajamkan, dan akan peka untuk melihat, dengan keindahan semesta alam.
-Khadimul Qur’aan-
 

Sunday, 21 April 2013

Amal Jama'i; Sebuah Ajakan



“Persatuan islam bukanlah sebuah mimpi, tapi sebuah cita-cita yang suatu saat nanti pasti terlaksana atas ridhoNya”

Amal jama’i bukanlah bekerja sendiri-sendiri dalam suatu kelompok. Amal jama’i adalah suatu pekerjaan oleh orang-orang yang terstruktur, satu komando, satu perintah, dan ada spesialisasi da’wahAmal Jama’i (gerakan bersama) secara bahasa berarti “sekelompok manusia yang berhimpun bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama.” Al-‘amalul al-jamaa’i berarti bekerja sama berdasarkan kesepakatan dan bekerja bersama-sama sesuai tugas yang diberikan untuk memantapkan amal. Jadi, Al-‘amalul al-jamaa’i mendistribusikan amal (pekerjaan) kepada setiap anggota berdasarkan potensi yang dimilikinya untuk mencapai tujuan.

Dalam kehidupan, amal jama’i (gerakan bersama) adalah sebuah kemestian. Tidak ada satu orang pun dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan pertolongan orang lain. Orang yang kaya membutuhkan si miskin untuk membantu tugas-tugas sehari-harinya. Orang miskin pun membutuhkan orang kaya.
Jika dalam kehidupan saja kita tidak terlepas dari amal jama’i, maka dalam sebuah perjuangan mencapai tujuan tertentu, atau cita-cita tertentu, maka amal jama’i lebih sangat dibutuhkan. Para pendahulu kita dahulu tidak mungkin dapat mewujudkan Indonesia Merdeka tanpa adanya amal jama’i (kerja sama). Demikian juga, sehebat apapun seorang Nabi atau Rasul tidak mungkin dapat mewujudkan negara Madinah tanpa adanya kerja sama antara kaum muslimin, terutama kaum Muhajirin dan Anshar. Oleh karena itu kerja sama atau amal jama’i mutlak dilakukan dalam mewujudkan sebuah cita-cita atau tujuan.

Dengan demikian, amal jama’i ini memiliki beberapa buah ciri sebagai berikut:
1. Aktivitas yang dijalankannya harus berdasarkan keputusan jamaah
2. Mempunyai sistem organisasi yang lengkap dan aktivitas dijalankan secara rapi dan tersusun
3. Tindakan dan kegiatannya sesuai dengan strategi pendekatan yang telah digariskan oleh jamaah
4. Seluruh kegiatannya bertujuan untuk mencapai cita-cita yang telah ditetapkan bersama

Kemudian, tujuan dari amal jama’i antara lain:
1. Distribusi pembagian tugas (Tau zii’ul ‘amal)
2. Meringankan beban da’wah (Tahfiiful a’baaidda’wah)
3. Menumbuhkan potensi (tau thifuthaqqah)

Lalu, apa sebenarnya yang mengharuskan kita ber-amal jama’i? Untuk tahu lebih dalam mengenai alasan ber-amal jama’i, mari kita simak ulasan berikut ini:

Pertama, Dustur Illahi. “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Q.S Ali Imran: 104). Dalam ayat ini Allah telah mengisyaratkan tentang wajibnya melaksanakan dakwah secara amal jama’i.

Kedua, karena amal jama’i adalah tabiat alam (natural). Tata surya adalah amal jama’i. “Ada yang memimpin dan ada yang dipimpin.” Amal Jama’i adalah sebuah sunnatullah. Bangsa semut tidak dapat membuat sarang atau menyimpan makanan tanpa adanya kerjasama di antara mereka. Bila kita melihat kehidupan semut, betapa mereka ulet dan saling bergotong royong dalam bekerja. Bahkan bila seekor semut bertemu dengan kawannya dia berhenti sejenak dan saling besalaman. Demikian juga pada kehidupan lebah, mereka mempunyai tugas masing-masing dalam mengembangkan dirinya dan di antara mereka tercipta kerjasama yang harmonis dalam bekerja.

Ketiga, karena manusia adalah makhluk sosial. Meskiupun nabi Adam telah disediakan segala kenikmatan surga, namun beliau masih saja merasa kurang jika tidak ada teman dalam hidupnya. Sehingga Allah menciptkan Hawa sebagai teman hidupnya. Demikian pula kita dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat hidup sendiri, melainkan membutuhkan bantuan orang lain.
Keempat, Dakwah secara jama’ah adalah dakwah yang paling efektif dan sangat bermanfaat bagi Gerakan Islam. Sebaliknya da’wah secara sendirian akan kurang pengaruhnya dalam usaha menanamkan ajaran Islam pada umat manusia.

Kelima, ber-amal jama’i (bergerak secara bersama) akan memperkuat orang-orang yang lemah dan menambah kekuatan bagi orang-orang yang sudah kuat. Satu batu bata saja akan tetap lemah betapapun matangnya batu bata tersebut. Ribuan batu bata yang berserakan tidak akan membentuk kekuatan, kecuali jika telah menjadi dinding, yaitu antara batu bata yang satu dengan yang lain telah direkat dan ditata secara rapi. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (Q.S Al Maaidah: 2).

Jikalau kita mencoba mendalami dan kembali kepada sejarah di masa-masa nabi, tepatnya d masa-masa antara nabi isa dan nabi Muhammad, menurut sebuah riwayat, jarak di anatara kedua utusan Allah itu sekitar 7 abad. Kurun waktu yang begitu lama tersebut ternyata membawa sebuah dampak bagi umat manusia pada waktu itu. Mereka yang pada awalnya sudah dapat ternaungi oleh islam, lama-kelamaaan perilaku dan sifatnya bergeser kembali ke masa-masa jahiliyah.

Dengan merenungkan cerita di atas, sudah sepantasnya kita melihat kurun waktu sekarang, di mana banyak sekali pergeseran-pergeseran yang seringkali tidak kita sadari. Sebuah kebaikan jika pergeseran itu membuat kita semakin dekat dengan Illah, namun alangkah meruginya jika pergeseran-pergeseran yang terjadi ini justru semakin menjauhkan diri kita dar Allah, Tuhan Semseta Alam.
Oleh sebab itu, sudah saatnya kita senantasa bermuhasabah diri dengan apa yang telah dan akan kita lakukan. Dengan muhasabah diri, diharapkan kita dapat senantiasa mendekatkan diri dari Allah.

***

Apakah itu amalan jama’i?
Jika kita membicarakan pengertian amalan jama’i, ada tiga kunci yang menjadi landasan utama pengertian dari amalan jama’i, yaitu :
1. Sebuah amalan yang dikerjakan secara bersama-sama
2. Terorganisir
3. Berlandasakan pada kesepakatan/musyawarah/syuro
4. Dalam sebuah amalan jama’I ada beberapa hal yang harus ada keberadaannya, yaitu:
    a. Pemimpin
    b. Yang dipimpin
5. Manhaj/landasan
6. Seorang pemimpin yang baik adalah seorang yang mampu mengkoordinir para jundinya, Ketika seorang jundi mendapatkan sebuah amanah yang bukan spesifkasinya, maka harus ada pembelajaran sehingga para jundi tidak akan menolak dengan amanah yang akan diberikan. Seorang jundi yang baik adalah yang mampu memahami tugas yang diberikan oleh pemimpinnya., namun bukan berarti hal ini membuat sang pemimpin dapat bertindak semena-mena, karena tetap dasar dari kegiatan amalan jama’I adalah Quran dan sunnah.
Ada sebuah hubungan timbal balik antara seorang pemimpin dengan yang dipimpin. Sebuah amalan jama’I juga harus berlandasakan pada suatu manhaj. Ketika sebuah kelompok telah menyepakati sesuatu, maka setiap anggota dalam syuro maupun musyawarah wajib melaksanakan hasil kesepakatan syuro.

Di zaman sekarang, banyak sekali bermunculan perbedaan pendapat di dalam sebuah kegiatan dakwah, sehingga orientasi yang seharuasnya terfokus pada ajaran islam justru bergeser menjadi ajang perlombaan untuk menjadi ormas islam terbaik. Oleh karena itulah, menjadi kewajiban kita adalah mempersatukan beberapa perbedaan itu dengan amalan jama’i.  Dengan amalan-jama’i diharapkan maksud dan tujuan dakwah yang sebenarnya dapat dikembalikan lagi.

Bagaimana bisa amalan jama’i mempersatukan umat islam?
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad:
Umat nabi Muhammad akan mengalami lima fase:
1. Fase Kenabian
2. Fase khulafaur rosyidin
3. Fase kerajaan-kerajaan islam (mulai goyah)
4. Fase dikatator (syariat islam tidak ada sama sekali)
5. Fase Kehdupan setelah mati (syariat islam akan muncul lagi)

Sebuah riwayat lain mengatakan bahwa di hari akhir nanti ada 7 golongan dan satu-satunya golongan yang masuk surga adalah ahli sunnah wal jamaah. TItik utama dari beberapa hadits dan riwayat ini adalah bahwasanya orang yang masuk golongan ahli sunnah wal jamaah berpegang teguh pada al quran, sunnah, ijma. Cara mempersatukannya adalah kembali lagi kepada Al Quran dan as sunnah. Lalu? Ada di fase manakah kita? Jelas, kita sedang berada di fase ke empat. Di mana syariat islam hamper dan bahkan tidak ada sama sekali.
=================================================================
Referensi :
Etika Jamaah
Paradigma Baru Dakwah Kampus

Source:
http://kammistksbandung.wordpress.com/2013/03/16/pentingnya-amal-jamai/
http://kmmp.faperta.ugm.ac.id/2012/07/halaqoh-amaan-jamai/