Mereka Tidak Gratis Lho


JAKARTA, KOMPAS.com- Orangtua Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) 2010 asal DKI Jakarta tidak habis pikir dengan kejadian pelecehan seksual yang terjadi pada putra-putri mereka. Mereka merasa telah memberikan bantuan selama pembinaan Paskibra, tapi anak mereka justru menjadi korban.

Demi melihat putra-putri mereka menjadi Paskibra, para orangtua tersebut rela merogoh kocek dalam-dalam. Mereka juga ikhlas memberikan bantuan dana sukarela seperti permintaan pelaksana pembinaan Paskibra.

"Ada surat tentang permintaan dana sukarela. Ya, kami sebagai orangtua tidak memikirkan hal itu. Kami ikhlas memberikan yang terbaik," kata salah satu orangtua.

Hal itu juga dibenarkan oleh orangtua lain, seusai menerima hasil investigasi tim internal Purna Paskibraka Indonesia (PPI), Jumat (20/8/2010) di kantor Dinas Olahraga dan Pemuda (Disorda) Provinsi DKI Jakarta. Para orangtua tersebut sangat menyayangkan terjadinya perbuatan asusila yang dilakukan oknum Paskibra senior kepada putra-putri mereka selama masa orientasi di Cibubur, 2-6 Juli 2010.

"Kami baik, kami support. Kok anak kita begitu (dilecehkan)? Apa dosa kita? Kalau begini anak kita sebulan tak sekolah," keluh katanya.

Selain memberikan sumbangan sukarela, para orangtua itu juga harus mengeluarkan uang sendiri untuk biaya kelengkapan putra-putrinya seperti membeli seragam selama latihan, sepatu hitam, dan sebagainya. "Persiapan (satu orang) Paskibra bisa mencapai Rp 5 juta. Di DKI Jakarta, itu menjadi beban orangtua," ungkap Made Wiratma, juga orangtua Paskibra putri.

Sebelumnya, Kepala Bidang Kepemudaan Disorda Firmansyah mengatakan, pemerintah telah menyediakan dana ratusan juta rupiah untuk proses seleksi hingga pembinaan Paskibra. "Ada anggaran dari APBD. Jumlahnya saya lupa, tapi sampai ratusan (juta)," kata Firmansyah, Rabu (18/8/2010) lalu.

Ketua Tim Investigasi PPI Mohamad Mahdi mengatakan, para anggota PPI juga turut membantu dalam terlaksananya pembinaan Paskibra.

BismiLlaah, semoga bermanfaat; jangan lupa komen untuk perbaikan ke depannya :)

Sunday, 22 August 2010

Mereka Tidak Gratis Lho


JAKARTA, KOMPAS.com- Orangtua Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) 2010 asal DKI Jakarta tidak habis pikir dengan kejadian pelecehan seksual yang terjadi pada putra-putri mereka. Mereka merasa telah memberikan bantuan selama pembinaan Paskibra, tapi anak mereka justru menjadi korban.

Demi melihat putra-putri mereka menjadi Paskibra, para orangtua tersebut rela merogoh kocek dalam-dalam. Mereka juga ikhlas memberikan bantuan dana sukarela seperti permintaan pelaksana pembinaan Paskibra.

"Ada surat tentang permintaan dana sukarela. Ya, kami sebagai orangtua tidak memikirkan hal itu. Kami ikhlas memberikan yang terbaik," kata salah satu orangtua.

Hal itu juga dibenarkan oleh orangtua lain, seusai menerima hasil investigasi tim internal Purna Paskibraka Indonesia (PPI), Jumat (20/8/2010) di kantor Dinas Olahraga dan Pemuda (Disorda) Provinsi DKI Jakarta. Para orangtua tersebut sangat menyayangkan terjadinya perbuatan asusila yang dilakukan oknum Paskibra senior kepada putra-putri mereka selama masa orientasi di Cibubur, 2-6 Juli 2010.

"Kami baik, kami support. Kok anak kita begitu (dilecehkan)? Apa dosa kita? Kalau begini anak kita sebulan tak sekolah," keluh katanya.

Selain memberikan sumbangan sukarela, para orangtua itu juga harus mengeluarkan uang sendiri untuk biaya kelengkapan putra-putrinya seperti membeli seragam selama latihan, sepatu hitam, dan sebagainya. "Persiapan (satu orang) Paskibra bisa mencapai Rp 5 juta. Di DKI Jakarta, itu menjadi beban orangtua," ungkap Made Wiratma, juga orangtua Paskibra putri.

Sebelumnya, Kepala Bidang Kepemudaan Disorda Firmansyah mengatakan, pemerintah telah menyediakan dana ratusan juta rupiah untuk proses seleksi hingga pembinaan Paskibra. "Ada anggaran dari APBD. Jumlahnya saya lupa, tapi sampai ratusan (juta)," kata Firmansyah, Rabu (18/8/2010) lalu.

Ketua Tim Investigasi PPI Mohamad Mahdi mengatakan, para anggota PPI juga turut membantu dalam terlaksananya pembinaan Paskibra.