Masih Mengeluh? Think Again

Bismillaahirahmaanirrahiim


Sebelum kita mengeluh tentang terjebak dalam kemacetan yang panjang, sebelum kita mengeluh tidak memiliki cukup uang untuk membeli gadget atau barang-barang lain, sebelum kita mengeluh untuk sejuta hal kecil lainnya, mari kita luangkan waktu untuk merenungkan kelimpahan berkah yang Allaah Taala telah beri pada kita. Betapa banyak yang Allaah berikan pada kita? Nikmat kesehatan, nikmat keluarga, semua nikmat Allaah telah berikan pada kita, termasuk yang paling sempurna adalah nikmat Iman yang menyejukkan. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (Q.S. Ar Rahmaan: 13).
Allaah mengulangnya sebanyak 31 kali agar kita selalu ingat. Agar kita tak pernah lupa untuk selalu bersyukur, dalam kondisi apapun. Dan memang seharusnya begitu.

Melihat anak ini, saya jadi termenung. Lidah ini serasa kelu, kekuatan besar di dalam hatinya dan antusiasme yang menggelora ia tunjukkan pada hari pertama di sekolah. MasyaAllah, azzamnya amat kuat :') Mari kita senantiasa berdo'a bahwa Allah Taala memberinya yang terbaik untuk kesehatan dan semua kekuatan yang ia butuhkan untuk menyelesaikan masa-studinya, dan untuk tumbuh menjadi Muslimah mengagumkan, in syaa Allaah:')

Jannah untukmu, adik tersayang. Jannatul Firdous. Aamiiiin

Jiwa-jiwa Perindu Syurga


  
Sukses itu ketika Allaah tidak meninggalkanmu untuk bergerak sendirian, dan gagal adalah ketika Allah meninggalkanmu untuk mengurus dirimu sendiri.”
-‘Ibn Al Qayyim- 


Mendengar kata sukses, seringnya kita terkaburkan akan definisi sukses itu sendiri. Kebanyakan orang menganggap bahwa sukses itu ketika punya rumah mewah, harta berlimpah, atau istri yang berlimpah pula (?). Tidak salah sih sebenarnya, tapi apa sukses yang kita bayangkan hanya sesempit itu? Mungkin kita pernah membayangkan bagaimana rasanya tinggal di syurga, menikah dengan bidadari yang bermata jeli, atau merasai pertemuan dengan Ilahi Rabbi.  Menurut saya, itu adalah sukses yang sebenarnya, trusted, dan tidak ada tipu-tipu. Sedikit catatan ini akan menceritakan pengalaman seorang sahabat, perindu syurga yang pernah ‘jatuh’ dan merasakan masa-masa terberat dalam hidup sebelum beliau –insyaa Allaah- mendapati hidupnya dalam kesuksesan. Tetapi, sebaik-baik kesuksesan adalah sukses dunia dan akhirat, tidak hanya sukses dunia.

Kami berada dalam ranah yang sama; ranah Bidikmisi ITB, berasal dari daerah terpencil, jauh dari keramaian, pun dari hiruk pikuk udara perkotaan. Tingkat pertama perkuliahan di ITB merupakan masa-masa paling labil yang dialami mahasiswa. Di sisi lain, Indonesia sekarang sedang dihangatkan dengan bisnis MLM, Multi Level Marketing, sebuah prospek bisnis yang menjanjikan. Siapa yang tidak tertarik dengan bisnis ini, bisa dapat uang dengan cara mudah. Tarik orang untuk mendaftar, kemudian orang yang kita rekrut akan merekrut lebih banyak orang lagi, dan seterusnya, dan seterusnya. Sehingga dengan itu uang kita di rekening akan berkembang biak dengan sendirinya. Enak, kan? Nah dalam perspektif Islam sendiri –walaupun ini khilafiyah- masalahnya tidak se-simple itu. Yakinkah kita kalau uang yang kita dapatkan halal atau haram? Tentu ini menjadi sebuah keragu-raguan. Padahal masyarakat Indonesia merupakan penganut madzhab Imam Asy-Syafi’i yang secara jelas bahwa Beliau adalah orang yang sangat berhati-hati pada hal-hal yang bermakna Syubhat (ragu-ragu). Terus gimana donk? Tentunya kita harus lebih jeli lagi, harus mengetahui dasar hukum dalam Islam sebelum kita memutuskan suatu hal. Wallahu a’lam bishshawwab.

Sahabat saya ini belum mengetahui hal tersebut sehingga beliau mengambil resiko untuk ikut MLM yang ditawarkan kakak tingkatnya. Mulai dari uang pendaftaran yang terbilang tidak murah, ditambah lagi seorang sahabat ini ikut segala macam seminar-seminar yang diadakan perusahaan MLM tersebut. Dalam seminar-seminarnya dihadirkan banyak orang-orang yang katanya sudah sukses dalam bidang MLM ini. Nah ini membuat beliau semakin tertarik dan kian semangat untuk ikut. Mulai dari sini beliau mengajak teman-teman beliau untuk bergabung. Hasilnya? Seorang sahabat menghabiskan uang sekitar 6 juta rupiah –angka ini tidak sedikit bagi mahasiswa bidikmisi- yang uang tersebut diambil dari berbagai macam sumber, alias hutang. Kebetulan beliau ini orangnya giat dalam berwirausaha, apalagi jika ada danus (dana usaha) dari berbagai macam Unit Kegiatan Mahasiswa di ITB. Sehingga beliau menggunakan uang tersebut untuk investasinya di MLM. Kuliahnya terbengkalai akibat ikut seminar-seminar yang ada, hutang berlimpah, ibadah terlalaikan, sedangkan beliau tidak mendapatkan hasil apa-apa. Beliau juga sering makan –atau tidak sama sekali- hanya dengan nasi dan kecap karena uangnya habis untuk bisnisnya. Beliau bingung harus dengan cara apa melunasi hutang-hutangnya.

Di akhir perkuliahan semester I beliau mulai merenungi perbuatan yang beliau lakukan. Seorang sahabat kecewa dan kesal dengan dirinya sendiri. Ia sadar bahwa perbuatannya salah, ia takut jika orangtuanya mengetahui hal ini pasti menimbulkan kekecewaan yang teramat sangat. Akhirnya ia bertaubat atas kesalahannya; malamnya ia isi dengan sujud dalam-dalam, air mata pertanda taqwa bercucuran dari pelipisnya, beragam do’a tercurah dari bibirnya. Ia menginsyafi diri. Libur semester di kampung halaman beliau gunakan untuk menjumpai ustadz-ustadz dan guru-guru SMA-nya untuk meminta solusi atas permasalahan yang beliau hadapi. Mereka memberi petuah-petuah kepada sahabat saya dengan lemah lembut dan kasih sayang. Ada satu pernyataan yang paling saya ingat dari gurunya.


“Kalau kamu mau sukses, maka kamu harus bisa menghadapi masalah yang sebagian besar orang tidak bisa menghadapinya. Kamu harus kuat. Allah selalu memberi jalan untuk orang shaleh seperti kamu.”
 



Kata-kata itu membuat kita yang mendengarnya akan merinding dan terharu. Kita jadi merasa masalah-masalah yang selama ini kita hadapi belum ada apa-apanya dibandingkan masalah yang dihadapi seorang sahabat ini. Cerita beliau ini memotivasi kita untuk bergerak lebih banyak dari bicara kita, untuk lebih berhati-hati dalam segala tindakan yang kita ambil, dan untuk mencintai dan mensyukuri apa yang kita miliki.
Inna ma’al ushri yushro, Akhi. Sungguh di tiap masalah yang kita hadapi, Allaah senantiasa menyajikan beragam solusi atas permasalahan kita. Masalah ini pertanda kecintaan Allaah padamu, pertanda level imanmu yang akan meningkat. Bersabarlah.”

Hanya itu yang bisa saya katakan kepada seorang sahabat yang semangatnya membuat kita iri, yang cintanya kepada akhirat melebihi cintanya kepada dunia. Maka pembicaraan hari itu ditutup dengan awan yang teduh menyelimuti ukhuwah kita, angin yang berhembus mesra di tiap desahan nafas, pun dengan dedaunan yang mengharu biru hati kita.

Maka jadilah kita sekokoh-kokoh iman; yang menasehati kala bersalah, yang bertindak atas keteguhan hati, yang niat tulus tak tergoyahkan nafsu semu. Jadilah kita sebaik-baik insan; yang mencintai dengan setulus hati, yang menyayangi dengan sepenuh jiwa, yang hadirnya selalu dinanti-nanti. Jadilah kita sekuat-kuat ukhuwah; yang dengan cinta kita saling bermesra di jalan-Nya, yang dengan harmoni kasih di jalan ini kita saling berpeluk hangat dalam dakwah. Maka jadilah kita jiwa-jiwa perindu syurga; yang insyafnya pertanda taqwa, yang bicaranya menyemangati, yang lebih sering mendengar daripada berbicara, yang lebih banyak bertindak nyata daripada berorasi di dunia maya. Maka ketahuilah Akhi, bahwa aku mencintaimu karena Allaah.


Musibah adalah sapaan halus, yang dengannya engkau mendekat dan mengingat Tuhanmu, bukan ujian jika sudah tahu jawabannya, ujian menguji agar pribadi teruji, jika bukan dengan gesekan-gesekan memilukan, lalu dengan apakah lagi pisau matahatimu akan ditajamkan, dan akan peka untuk melihat, dengan keindahan semesta alam.
-Khadimul Qur’aan-
 

Amal Jama'i; Sebuah Ajakan



“Persatuan islam bukanlah sebuah mimpi, tapi sebuah cita-cita yang suatu saat nanti pasti terlaksana atas ridhoNya”

Amal jama’i bukanlah bekerja sendiri-sendiri dalam suatu kelompok. Amal jama’i adalah suatu pekerjaan oleh orang-orang yang terstruktur, satu komando, satu perintah, dan ada spesialisasi da’wahAmal Jama’i (gerakan bersama) secara bahasa berarti “sekelompok manusia yang berhimpun bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama.” Al-‘amalul al-jamaa’i berarti bekerja sama berdasarkan kesepakatan dan bekerja bersama-sama sesuai tugas yang diberikan untuk memantapkan amal. Jadi, Al-‘amalul al-jamaa’i mendistribusikan amal (pekerjaan) kepada setiap anggota berdasarkan potensi yang dimilikinya untuk mencapai tujuan.

Dalam kehidupan, amal jama’i (gerakan bersama) adalah sebuah kemestian. Tidak ada satu orang pun dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan pertolongan orang lain. Orang yang kaya membutuhkan si miskin untuk membantu tugas-tugas sehari-harinya. Orang miskin pun membutuhkan orang kaya.
Jika dalam kehidupan saja kita tidak terlepas dari amal jama’i, maka dalam sebuah perjuangan mencapai tujuan tertentu, atau cita-cita tertentu, maka amal jama’i lebih sangat dibutuhkan. Para pendahulu kita dahulu tidak mungkin dapat mewujudkan Indonesia Merdeka tanpa adanya amal jama’i (kerja sama). Demikian juga, sehebat apapun seorang Nabi atau Rasul tidak mungkin dapat mewujudkan negara Madinah tanpa adanya kerja sama antara kaum muslimin, terutama kaum Muhajirin dan Anshar. Oleh karena itu kerja sama atau amal jama’i mutlak dilakukan dalam mewujudkan sebuah cita-cita atau tujuan.

Dengan demikian, amal jama’i ini memiliki beberapa buah ciri sebagai berikut:
1. Aktivitas yang dijalankannya harus berdasarkan keputusan jamaah
2. Mempunyai sistem organisasi yang lengkap dan aktivitas dijalankan secara rapi dan tersusun
3. Tindakan dan kegiatannya sesuai dengan strategi pendekatan yang telah digariskan oleh jamaah
4. Seluruh kegiatannya bertujuan untuk mencapai cita-cita yang telah ditetapkan bersama

Kemudian, tujuan dari amal jama’i antara lain:
1. Distribusi pembagian tugas (Tau zii’ul ‘amal)
2. Meringankan beban da’wah (Tahfiiful a’baaidda’wah)
3. Menumbuhkan potensi (tau thifuthaqqah)

Lalu, apa sebenarnya yang mengharuskan kita ber-amal jama’i? Untuk tahu lebih dalam mengenai alasan ber-amal jama’i, mari kita simak ulasan berikut ini:

Pertama, Dustur Illahi. “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Q.S Ali Imran: 104). Dalam ayat ini Allah telah mengisyaratkan tentang wajibnya melaksanakan dakwah secara amal jama’i.

Kedua, karena amal jama’i adalah tabiat alam (natural). Tata surya adalah amal jama’i. “Ada yang memimpin dan ada yang dipimpin.” Amal Jama’i adalah sebuah sunnatullah. Bangsa semut tidak dapat membuat sarang atau menyimpan makanan tanpa adanya kerjasama di antara mereka. Bila kita melihat kehidupan semut, betapa mereka ulet dan saling bergotong royong dalam bekerja. Bahkan bila seekor semut bertemu dengan kawannya dia berhenti sejenak dan saling besalaman. Demikian juga pada kehidupan lebah, mereka mempunyai tugas masing-masing dalam mengembangkan dirinya dan di antara mereka tercipta kerjasama yang harmonis dalam bekerja.

Ketiga, karena manusia adalah makhluk sosial. Meskiupun nabi Adam telah disediakan segala kenikmatan surga, namun beliau masih saja merasa kurang jika tidak ada teman dalam hidupnya. Sehingga Allah menciptkan Hawa sebagai teman hidupnya. Demikian pula kita dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat hidup sendiri, melainkan membutuhkan bantuan orang lain.
Keempat, Dakwah secara jama’ah adalah dakwah yang paling efektif dan sangat bermanfaat bagi Gerakan Islam. Sebaliknya da’wah secara sendirian akan kurang pengaruhnya dalam usaha menanamkan ajaran Islam pada umat manusia.

Kelima, ber-amal jama’i (bergerak secara bersama) akan memperkuat orang-orang yang lemah dan menambah kekuatan bagi orang-orang yang sudah kuat. Satu batu bata saja akan tetap lemah betapapun matangnya batu bata tersebut. Ribuan batu bata yang berserakan tidak akan membentuk kekuatan, kecuali jika telah menjadi dinding, yaitu antara batu bata yang satu dengan yang lain telah direkat dan ditata secara rapi. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (Q.S Al Maaidah: 2).

Jikalau kita mencoba mendalami dan kembali kepada sejarah di masa-masa nabi, tepatnya d masa-masa antara nabi isa dan nabi Muhammad, menurut sebuah riwayat, jarak di anatara kedua utusan Allah itu sekitar 7 abad. Kurun waktu yang begitu lama tersebut ternyata membawa sebuah dampak bagi umat manusia pada waktu itu. Mereka yang pada awalnya sudah dapat ternaungi oleh islam, lama-kelamaaan perilaku dan sifatnya bergeser kembali ke masa-masa jahiliyah.

Dengan merenungkan cerita di atas, sudah sepantasnya kita melihat kurun waktu sekarang, di mana banyak sekali pergeseran-pergeseran yang seringkali tidak kita sadari. Sebuah kebaikan jika pergeseran itu membuat kita semakin dekat dengan Illah, namun alangkah meruginya jika pergeseran-pergeseran yang terjadi ini justru semakin menjauhkan diri kita dar Allah, Tuhan Semseta Alam.
Oleh sebab itu, sudah saatnya kita senantasa bermuhasabah diri dengan apa yang telah dan akan kita lakukan. Dengan muhasabah diri, diharapkan kita dapat senantiasa mendekatkan diri dari Allah.

***

Apakah itu amalan jama’i?
Jika kita membicarakan pengertian amalan jama’i, ada tiga kunci yang menjadi landasan utama pengertian dari amalan jama’i, yaitu :
1. Sebuah amalan yang dikerjakan secara bersama-sama
2. Terorganisir
3. Berlandasakan pada kesepakatan/musyawarah/syuro
4. Dalam sebuah amalan jama’I ada beberapa hal yang harus ada keberadaannya, yaitu:
    a. Pemimpin
    b. Yang dipimpin
5. Manhaj/landasan
6. Seorang pemimpin yang baik adalah seorang yang mampu mengkoordinir para jundinya, Ketika seorang jundi mendapatkan sebuah amanah yang bukan spesifkasinya, maka harus ada pembelajaran sehingga para jundi tidak akan menolak dengan amanah yang akan diberikan. Seorang jundi yang baik adalah yang mampu memahami tugas yang diberikan oleh pemimpinnya., namun bukan berarti hal ini membuat sang pemimpin dapat bertindak semena-mena, karena tetap dasar dari kegiatan amalan jama’I adalah Quran dan sunnah.
Ada sebuah hubungan timbal balik antara seorang pemimpin dengan yang dipimpin. Sebuah amalan jama’I juga harus berlandasakan pada suatu manhaj. Ketika sebuah kelompok telah menyepakati sesuatu, maka setiap anggota dalam syuro maupun musyawarah wajib melaksanakan hasil kesepakatan syuro.

Di zaman sekarang, banyak sekali bermunculan perbedaan pendapat di dalam sebuah kegiatan dakwah, sehingga orientasi yang seharuasnya terfokus pada ajaran islam justru bergeser menjadi ajang perlombaan untuk menjadi ormas islam terbaik. Oleh karena itulah, menjadi kewajiban kita adalah mempersatukan beberapa perbedaan itu dengan amalan jama’i.  Dengan amalan-jama’i diharapkan maksud dan tujuan dakwah yang sebenarnya dapat dikembalikan lagi.

Bagaimana bisa amalan jama’i mempersatukan umat islam?
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad:
Umat nabi Muhammad akan mengalami lima fase:
1. Fase Kenabian
2. Fase khulafaur rosyidin
3. Fase kerajaan-kerajaan islam (mulai goyah)
4. Fase dikatator (syariat islam tidak ada sama sekali)
5. Fase Kehdupan setelah mati (syariat islam akan muncul lagi)

Sebuah riwayat lain mengatakan bahwa di hari akhir nanti ada 7 golongan dan satu-satunya golongan yang masuk surga adalah ahli sunnah wal jamaah. TItik utama dari beberapa hadits dan riwayat ini adalah bahwasanya orang yang masuk golongan ahli sunnah wal jamaah berpegang teguh pada al quran, sunnah, ijma. Cara mempersatukannya adalah kembali lagi kepada Al Quran dan as sunnah. Lalu? Ada di fase manakah kita? Jelas, kita sedang berada di fase ke empat. Di mana syariat islam hamper dan bahkan tidak ada sama sekali.
=================================================================
Referensi :
Etika Jamaah
Paradigma Baru Dakwah Kampus

Source:
http://kammistksbandung.wordpress.com/2013/03/16/pentingnya-amal-jamai/
http://kmmp.faperta.ugm.ac.id/2012/07/halaqoh-amaan-jamai/


Karena Pribadimu; ialah Cermin dari Hatimu


Abdul Wahid

“Karena menanam kebaikan ialah memelihara hati; kau siram ia dengan sholatmu, kau jadikan hafalanmu sebagai pupuknya, kau jadikan iman sebagai cahayanya. Lalu kau menyungging senyum sebab yang kau tau buahnya ialah akhlaq yang manis, renyah, dan lezat; rahmat bagi sekalian alam.”

Entah kenapa, setiap kali membahas sesuatu, apapun itu, saya selalu menyelaraskannya, dan juga menyangkut-pautkannya dengan hati. Ya, sebab yang saya tau, hati itu ialah yang inti; yang paling dalam, yang paling benar, yang paling jujur, yang paling suka menebar kebaikan. Ialah hati; yang penuh damai, penuh kelembutan, penuh ketulusan. Sebab hati, hanya bisa disentuh oleh hati juga. Dan hati ialah inti dari akhlaq yang mulia; inti dari pribadi muslim yang sejati.

Sepuluh -10- Ciri Pribadi Muslim yang Ideal
-Muwashoffat Tarbiyah-


Salimul Aqidah (Good Faith) – Aqidah yang Bersih
Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan- ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam’ (QS 6:162). Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.

Sahihul Ibadah (Right Devotion) – Ibadah yang Benar
Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: ’shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.’ Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

Matinul Khuluq (Strong Character) – Akhlaq yang Kokoh
Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setkal muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al- Qur’an, Allah berfirman yang artinya: ‘Dan sesungguhnya kamu benar- benar memiliki akhlak yang agung’ (QS 68:4).

Qowiyyul Jismi (Phisical Power) – Kekuatan Jasmani
Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk- bentuk perjuangan lainnya. Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: ‘Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah’ (HR. Muslim).

Mutsaqqoful Fikri (Thinking Brilliantly) – Wawasan luas (Intelektualitas)
Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia antuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: ‘pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219). Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatka pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah:samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).

Mujuhadatun Linafsihi (Continence) – Berjuang Melawan Hawa Nafsu
Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatun linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setkal diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beragmana seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).

Haritsun'ala Waqtihi (Good Time Management) – Pandai Menjaga Waktu
Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, Yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan:
‘Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.’ Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

Munazhzhamun fi Syu'unihi (Well Organized) – Teratur dalam Suatu Urusan
Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu udusán dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasih ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.

Qodirun'alal Kasbi (Independent) – Mandiri
Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena itu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memilik keutamaan yang sangat tinggi. Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.

Naafi'un Lighoirihi (Giving Contribution) – Bermanfaat bagi orang lain
Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tirák mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir).



Boleh Kusebut Kau Pelangi?


Abdul Wahid

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
Q.S. At-Taubah: 41 


Bermula di tempat itu, Mesjid Salman ITB; sebuah masjid yang elok didengar di penjuru alam; masjid yang aku tak habis pikir akannya sejak awal berkenalan di kota ini, kota yang juga amat masyhur terngiang di pelosok Negeri; kota Bandung. Adapun masjid ini, merupakan mesjid yang amat memesona bagiku; dan mungkin bagi banyak orang lainnya; termasuk bagi sahabat-sahabat kami yang ada di Majelis Ta’lim Salman ITB. Sebab, bermula dari masjid inilah sejarah baru hidup kami terbentuk.

Kala SMA dulu, aku sempat mengaktifkan diri di sebuah kelompok yang terdengar asing kalau kita baru pertama kali mendengarnya, sebut saja namanya Rohis. Ya, Rohis; yang merupakan singkatan dari Kerohanian Islam. Asin, pahit, asam, manis, begitu yang aku rasakan sejak mengikuti Rohis. Ketika keadaan harus dibenturkan dengan realita yang ada di masyarakat pada umumnya, dan di keluarga pada khususnya. Memang, keluarga kami bukanlah keluarga yang terlahir dari keturunan para Nabi dan Rasul, tidak juga para syuhada, apalagi para ulama. Keluarga kami terlahir sederhana, dari pengetahuan agama yang sederhana pula. Dan ketika itulah aku ditabrakkan pada sebuah kenyataan yang amat sulit. Namun, aku percaya pada janjiNya, bahwa, “..bersama kesulitan itu ada kemudahan..” Ah, rasanya kesulitan-kesulitan itupun sedikit demi sedikit sirna, dan Puji Syukur hanya pada Allaah yang sampai saat ini masih mengizinkanku untuk merasai indahnya Islam yang tak tergambar oleh kata-kata, dan ketahuilah; bahwa aku bangga terlahir sebagai muslim.

Bertamat SMA, aku melanjutkan ke itb, dan hendak melanjutkan kelompok halaqoh yang dulu sempat ditanam, dan lagi, Puji Syukur pada Allaah yang Maha Mempermudah segala urusan. Dan akhirnya aku menemukan kelompok halaqoh baru, dengan saudara-saudara baru, yang sebenarnya telah lama dipersatukan lewat do’a, dan juga ukhuwah Islamiyah. Dari sinilah mulanya aku mengenal Majelis Ta’lim Salman ITB; sebuah kelompok kajian yang disebut RasuluLlaah sebagai taman-taman syurga; yang menjadi tonggak sejarah baru bagi kami; para penggenggam hujan, para pejuang Al-Qur’an, para Anggota Muda Majelis Ta’lim Salman ITB. Dan apakah aku boleh memanggilmu pelangi?

Ya, tak salah jika ku sebut kau pelangi. Kau ibarat pelangi; yang warninya amat dinantikan; yang begitu dirindukan ummat setelah hujan turun. Dan Majelis ini pun demikian, amat dinantikan kala gaungnya tak terdengung lagi. Sebab, antusiasme dan semangat kami –para anggota muda- begitu menggema, hingga mungkin menggetarkan samudera-samudera yang luas terbentang; meruntuhkan gunung-gunung yang tinggi menjulang, dan memang itulah yang aku senangi dari jiwa muda, sampai awan-awan pun mungkin cemburu pada semangat kami yang begitu menggelora.

Mungkin tak salah jika ku sebut kau pelangi. Dan kau memang pelangi; yang warnanya amat memabukkan bagi setiap insan yang mencicipi. Dan begitupun engkau, hai Majelis ilmu! Kau membuat kami menagih untuk mencicipimu kembali. Disaat banyak orang yang mabuk dan ketagihan akan khamr dan obat-obat terlarang; di Majelis ini manusia mabuk dan akan terus haus akan ilmu-ilmu yang amat bermanfaat; akan saudara-saudara se-iman yang telah disatukan rindu-rindu yang membasahi kalbu.

Tak salah jika ku sebut kau pelangi. Kenapa engkau seperti pelangi? Atau pelangikah yang sepertimu? Sebab pelangimu itu amat menyejukkan hati kami kala merasai pertemuan denganmu. Ketika gulana kami menggunung, mungkin engkau salah satu tempat kami bercerita, yang sedikit-banyaknya mampu meredakan gulana kami. Mengapa engkau begitu menyejukkan? Mungkin dikarenakan Al-Qur’an yang senantiasa engkau ramaikan bersama awan; yang engkau baca, engkau pelajari, engkau amalkan, engkau ajarkan, engkau hafalkan, dan engkau senandungkan dengan amat syahdunya. Sebab yang ku tahu, engkau selalu
merujuk pada sabda Nabi yang syahdu terdengar di telinga kita.

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Ah, bahagia sekali rasanya pernah membersamai kalian dalam dakwah ini. Dalam dakwah yang sejatinya  tidaklah mudah; dakwah yang penuh godaan dan cobaan, dakwah yang bukan permainan belaka, dakwah yang bukan hanya menuntut harta, tapi juga jiwa dan raga. IkhwatifiLlaah, berangkatlah dengan keadaan lapang maupun sempit, dalam kondisi apapun, dalam situasi apapun. Apakah syurgaNya tak begitu menggiurkan bagimu?

Semua Karena Cinta


Abdul Wahid

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). Q.S. Al-An'aam: 59


Institut Teknologi Bandung; kampus ter-masyhur, kampus ter-indah, kampus ter-bagus, kampus ter-sopan, kampus ter-disiplin. Kampus tempat bernaungnya orang-orang terbaik dari seluruh Indonesia, kampusnya siswa-siswi hasil ‘tempaan’ BimBel, juga merupakan tempat kuliah anak-anak -yang katanya- ‘terkaya’ Bangsa, begitu kata orang tentang Institut Teknologi Bandung; kampus dambaan siswa-siswi se-Indonesia yang akan menamatkan masa SMA, kampus yang sepanjang sejarahnya mampu menetaskan engineer-engineer berkualitas yang mampu bersaing dengan engineer dari negara lain. Inilah kisahku menuju kampus idaman, kampus yang katanya berwarna-warni; kampus yang kerennya tiada tara. Saksikanlah, petualanganku mencari pelangi; mencari hujan yang sempat dicuri.
Adalah aku; satu dari ribuan orang beruntung yang berkesempatan menjejaki kampus terbaik ini. Entahlah, sampai sekarang aku juga belum tau mengapa ITB ‘menculik’ jiwa dan ragaku untuk bergabung bersamanya. Dan rasanya masih ada rasa tak pantas, jika aku harus bergabung dalam keluarga besar ITB; apalagi di fakultas besar bernama Sekolah Teknik Elektro dan Informatika. Ah, hati kecilku seringkali berbisik, “adapun yang terjadi ini; semua karena cintaNya; cinta kasih kepada hambaNya.”
Adalah aku; seorang biasa yang dilahirkan oleh orang luar biasa; orangtuaku. Ya, orangtuaku; yang senantiasa memberiku semangat, motivasi, harapan, serta angan yang membuatku kuat hingga saat ini. Merekalah; orangtua yang paling cinta pada anaknya, melebihi cinta mereka pada diri mereka sendiri. Adapun kakak-kakakku, mereka ber-empat yang senantiasa memberi dorongan secara material dan ruhaniyah untukku. Meski terkadang menyebalkan, ketahuilah; aku mencintai kalian dengan sepenuh hatiku, dan....aku bangga dan bahagia telah terlahir dari keluarga ini; keluarga yang nyaman dan membawa kenyamanan, keluarga yang damai dan membawa kedamaian, keluarga yang ceria dan membawa keceriaan; dan...ini semua karena cinta.
Ya; semua karena cinta, sejak saya mengidamkan ITB kala SMP dulu; kelas IX tepatnya. Saat itu, kakakku sedang melihat-lihat daftar Perguruan Tinggi di Indonesia, penasaran, sesekali aku melirik ke arah kertas-kertas yang kakakku lihat itu. Seluruh Perguruan Tinggi Negeri aku pelototi satu persatu, sampailah pada satu perguruan tinggi yang namanya agak mencolok; Institut Teknologi Bandung. Aku tertarik dengan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, apalagi ditambah dengan cerita dari kakakku mengenai fakultas tersebut. Dan terlintaslah sebuah angan untuk menuju kampus itu, yang lagi-lagi katanya terbaik di negeri ini. Tapi, angan tinggallah angan, mimpi hanyalah mimpi. Aku mengidamkan, tapi rasanya aku tak memiliki niat yang kuat untuk bisa masuk ke kampus itu. Sebab, aku berpikir rendah tentang diriku; mana bisa orang dari kampung pedalaman lulus di kampus se-bagus itu? Ah, mimpi. Lagi-lagi aku mimpi; mimpi aneh di siang bolong.
Semua karena cinta, ketika mimpiku tentang ITB berlanjut sampai ke SMA. Seringkali, aku melihat berita-berita tentang kehebatan kampus ganesha itu. Ah, rasanya kelas XI SMA masih belum pantas berangan-angan masuk ke kampus tersebut. Ku kuatkan hatiku, “You can do it! You can do it!” Baiklah, masalah hati sudah selesai, sekarang masalahnya berbeda. Aku tak lagi mengidamkan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, saat itu aku mengidamkan...Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati. Lah, kenapa? Ya, jelas. Fakultas itu adalah fakultas yang cukup rendah passing gradenya. Aku mengenal diriku; kemampuanku. Itu sebabnya mengapa aku memilih SITH di kelas XI.
Ini semua karena cinta, kala galau menguasai diriku. Ya, aku sudah naik ke kelas XII, masa-masa akhir di tingkat menengah atas. Di kelas XII ini, aku harus merangkai peta hidup; termasuk sesegera mungkin menentukan PTN yang akan aku tempati untuk berguru ilmu setelah menamatkan masa SMA. Di semester pertama kelas XII, aku memfokuskan diri pada Ujian Nasional yang merupakan penentu lulus atau tidaknya masa SMA. Saat itu, aku hanya memfokuskan pada UN saja, dan soal PTN, itu urusan belakangan, yang penting lulus dulu. Begitu pikirku kala itu. Di sela-sela masa belajar untuk UN, kusempatkan sedikit waktu untuk mempelajari soal-soal SNMPTN tahun-tahun lalu, serta mencari informasi beasiswa, Perguruan Tinggi Negeri, Perguruan Tinggi Kedinasan, dan informasi lain yang dirasa perlu untuk menunjang masa depanku. Aku berhasil mengonsep peta hidupku.
Dan ini semua masih karena cinta. Bulan november adalah masa-masa sulit dalam perjalanan masa SMA, selain harus mengejar prestasi akademik di Ujian Nasional, aku juga harus mendaftarkan diri di Perguruan Tinggi Kedinasan, ataupun yang sejenisnya. Lulus tak lulus, yang penting daftar dulu. Hari demi hari berlalu, aku menemukan puncak dari masa sulitku. Ayahku sakit, seringnya beliau mengeluarkan cairan dari lambungnya, dari hatinya, dari perutnya, juga dari duburnya. Cairan itu disebut darah –begitu orang bilang-. Berulang kali kami mengantarkannya ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapat pertolongan; baik itu transfusi darah, atau yang lainnya.
Semua..karena..cinta... Hm, 3 Desember 2011. Ah, rasanya aku ingat sekali dengan tanggal itu. Tanggal yang paling menyejarah dalam hidup, tanggal yang membuat hujan berkerumun membasahi tanah, tanggal yang...tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ya, tanggal itu adalah saat ayahku dipanggil oleh Allaah untuk kembali ke hadiratNya; pukul 6 pagi tepatnya. Hari sabtu, yang harusnya digunakan anak-anak untuk bermain bersama keluarga, berkumpul, dan bercengkrama. Tapi mungkin, hari itu dijadikan rindu-rindu yang membasahi kalbu. Ah, rindunya aku masa-masa itu; kala ayahku berpesan padaku untuk menjadi anak yang pintar, anak yang pintar, anak yang pintar.

Dan untuk Ayahku, ketahuilah, ada rindu yang dijahit oleh manisnya benang cinta diujung kalbu. Ada sendu dibalik malu-malu. Ada sesuatu....yang akupun tak tau apa itu. Aku rindu pada hidupmu. Pada rendahnya hatimu. Pada hangatnya pelukmu. Pada...kasih, dan sayangmu..
Semua masih karena cinta; kala pesan singkat menghujani ponselku, semua membunyikan tema yang sama, “Akhi, semoga Allaah menerima amal ibadah Ayahanda; dan semoga keluarga diberi ketabahan, kesabaran...” Ah, pesan-pesan itu, rasanya bahagia sekali, ternyata masih ada yang perhatian padaku, padahal tak banyak manfaat yang bisa kuberikan pada mereka. Malah, ada seorang teman yang sampai sekarang masih aku ingat pesannya, “Wahid, tetap semangat! Buat ayahmu tersenyum di sana. Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan menantimu di SNMPTN 2012.” Pesan itu, laksana api yang membakar semangatku untuk maju, maju, dan maju. Dan, untuk sahabat-sahabatku; pelangimu yang memabukkan itu tak akan bisa dihapus malam yang kelam sekalipun. Ana Uhibbukum fiLlaah.
Semua karena cinta yang menggunung itu; aku jadi lebih bersemangat dan siap mengahadapi halangan, juga tantangan di masa mendatang. Satu persatu masalah bisa terselesaikan. Termasuk mendaftar di SNMPTN 2012 Jalur Undangan. AlhamduliLlaah, Allaah memberiku kesempatan untuk mengikuti jalur undangan melalui jalur Bidik Misi Dikti yang diadakan sebelum Ujian Nasional. Fix, aku memilih ITB dan ITS dalam pilihan PTN di SNMPTN Jalur Undangan. Dan yang perlu diketahui adalah, aku merubah pilihanku di semester kedua kelas XII, aku memutuskan untuk memilih...Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, aku sudah memantapkan hati untuk mengambil jurusan Teknik Material di tahun kedua. Namun anehnya, aku tak meletakkan FTMD di prioritas pertama, aku menaruhnya di pilihan kedua. Pilihan pertama aku pilih Sekolah Teknik Elektro dan Informatika; dengan harapan tak lulus di pilihan pertama. Dan memang, aku pesimis untuk lulus di ITB, sebab kita semua paham, untuk masuk ke ITB itu harus mengalahkan siswa-siswi terbaik dari seluruh Indonesia; dan rasanya, orang kampung sepertiku ini tak pantas, dan mungkin akan jadi guyonan warga kampung saja.
Semua karena cintaNya yang tak terhingga yang tak bisa dihitung jumlahnya. Ujian Nasional menghampiri siswa-siswi se-Indonesia. AlhamduliLlaah, aku bisa mengerjakan soal dengan lancar, dan tak ada hambatan yang berarti. Kala hari-hari ujian Nasional selesai, aku berangkat ke Berastagi; membantu kakakku berdagang roti bakar. Lumayan, seribu dua ribu bisa mengisi pundi-pundi yang haus karena kemarau panjang. Sehari sebelum pengumuman UN, aku pulang ke Binjai karena esoknya aku harus ke sekolah untuk melihat pengumuman Ujian Nasional. The Day has come. Aku ke sekolah yang penuh cinta; SMA Negeri 2 Binjai, bersama kakakku, kami menanti pengumuman dengan harap-harap cemas. Dan, AlhamduliLlaah, aku lulus. Selesai sudah masa SMA yang indah itu. Aku harus bersiap menuju masa depan yang telah Dia rencanakan. Di hari yang sama, pengumuman SNMPTN Jalur Undangan dilaksanakan jam 17.00 sore. Memang, panitia SNMPTN mempercepat jadwal dari yang telah ditentukan. Sesampainya di rumah, tepat jam 17.00 sore, aku langsung membuka laptop dan hendak melihat pengumuman. Jujur, aku belum berani melihatnya. Aku cemas. Aku gundah gulana. Kecemasanku menggunung; hingga sampailah sepucuk pesan menghampiri ponselku, “AlhamduliLlaah, Hid. Saya lulus di Fakultas Kedokteran Univ. Sumatera Utara..” Salah seorang sahabatku lulus di Fakultas paling prestisius di Universitas tersebut. Aku bahagia, sangat bahagia. Satu persatu pesan berdatangan, dan kesemuanya memberi kabar bahagia. Akhirnya, aku beranikan diri melihat pengumuman... Perlahan ku ketik alamat websitenya, ku ketik nomor pendaftaran, lalu NISN. Dan hanya Allaah-lah yang Maha Berkehendak; aku telah merelakan hidupku padaNya, aku ridho pada apa yang diturunkanNya, dan aku hanya berharap yang terbaik dariNya. Aku terperanjak, sebuah pesan manis tampil di depan layar, “Selamat, Anda dinyatakan lulus melalui SNMPTN - Jalur Undangan di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung.” Tersentak, aku langsung sujud syukur dan teriak keras; menangis dan tak bisa berbuat apa-apa.

“Oh, Allaah... Berjuta kata syukur terucap-pun tak akan bisa mewakili nikmat-Mu yang teramat banyak..”

...sebab semua karena cinta...

Sedikit renungan; Untuk diri sendiri..


"Dimana rumahmu Nak?

Orang bilang anakku seorang aktivis . Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana .  Orang bilang anakku seorang aktivis.Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat . Orang bilang anakku seorang aktivis .Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak ? Ibu bilang engkau hanya seorang putra kec...il ibu yang lugu.

Anakku,sejak mereka bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis. Dengan segala kesibukkanmu,ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak, tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.

Anakku,kita memang berada disatu atap nak,di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini. Tapi kini dimanakah rumahmu nak?ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini . Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah,dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu . Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut.Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu . Ah,lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti,bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu . Atau jangankan untuk tersenyum,sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau,katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal,andai kau tahu nak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini,memastikan engkau baik-baik saja, memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak, tapi bukankah aku ini ibumu ? yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku..

Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu,engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu . Engkau nampak amat peduli dengan semua itu,ibu bangga padamu .Namun,sebagian hati ibu mulai bertanya nak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak ? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu ? kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak ? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak ?

Anakku,ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu.Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu . Memang nak,menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan .Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak? bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?

Anakku, ibu mencoba membuka buku agendamu .Buku agenda sang aktivis.Jadwalmu begitu padat nak,ada rapat disana sini, ada jadwal mengkaji,ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting.Ibu membuka lembar demi lembarnya, disana ada sekumpulan agendamu,ada sekumpulan mimpi dan harapanmu.Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana.Ternyata memang tak ada nak,tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini. Tak ada cita-cita untuk ibumu ini . 
Padahal nak,andai engkau tahu sejak kau ada dirahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu,putra kecilku..

Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka,mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional. Boleh ibu bertanya nak,dimana profesionalitasmu untuk ibu ?dimana profesionalitasmu untuk keluarga ? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat ?

Ah,waktumu terlalu mahal nak.Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu..

Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta,ibu,ayah,kaka dan adik . Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik .Dan hingga saat itu datang,jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan. Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan .Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai. Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus,untuk mereka sang penopang semangat juang ini . Saksikanlah,bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang kita lakukan. Karena tanpa ridhamu, Mustahil kuperoleh ridhaNya..."

Ya, sesibuk apapun kalian, tetaplah luangkan waktu buat keluarga. 
Bagi yang jauh merantau di sana, minimal telepon/SMS keluarga 3 hari sekali. 
Boleh jadi kita profesional di mata orang. Tetapi, apakah kita sudah profesional di mata orang tua kita??

Sepotong Perjalanan

“Jika kita sering mendengar dan mengatakan bahwa jalan dakwah ini adalah jalan yang ditempuh para Nabi, maka kitapun seharusnya sudah memahami dan menyadari karakter perjalanan ini yang memang bukan perjalanan yang nikmat dan nyaman serta penuh santai. Tapi inilah jalan yang sudah kita pilih, untuk kita lalui dalam hidup dan menuju kebahagiaan hakiki di akhirat. Maka kita harus mengikat diri dengan jalan ini dan dengan saudara-saudara kita di jalan ini. Ada 5 ikatan yang setidaknya mengharuskan kita tetap berada di sini:

Rabithatu al ‘aqidah (Ikatan Akidah), Rabithatu al Fikrah (Ikatan Pemikiran), Rabithatu al Ukhuwah (Ikatan Persaudaraan), Rabithatu at tanzhim (Ikatan Organisasi), Rabithatu al ‘ahd (Ikatan Janji). Andai di tengah perjalanan, kita harus mengalami terpaan, ujian, fitnah dan godaan, kita berharap kelima buhul ikatan kita itu tidak membiarkan kita terhempas dari jalan ini.” 

(Sender: Intan P)
BismiLlaah, semoga bermanfaat; jangan lupa komen untuk perbaikan ke depannya :)

Thursday, 2 January 2014

Masih Mengeluh? Think Again

Bismillaahirahmaanirrahiim


Sebelum kita mengeluh tentang terjebak dalam kemacetan yang panjang, sebelum kita mengeluh tidak memiliki cukup uang untuk membeli gadget atau barang-barang lain, sebelum kita mengeluh untuk sejuta hal kecil lainnya, mari kita luangkan waktu untuk merenungkan kelimpahan berkah yang Allaah Taala telah beri pada kita. Betapa banyak yang Allaah berikan pada kita? Nikmat kesehatan, nikmat keluarga, semua nikmat Allaah telah berikan pada kita, termasuk yang paling sempurna adalah nikmat Iman yang menyejukkan. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (Q.S. Ar Rahmaan: 13).
Allaah mengulangnya sebanyak 31 kali agar kita selalu ingat. Agar kita tak pernah lupa untuk selalu bersyukur, dalam kondisi apapun. Dan memang seharusnya begitu.

Melihat anak ini, saya jadi termenung. Lidah ini serasa kelu, kekuatan besar di dalam hatinya dan antusiasme yang menggelora ia tunjukkan pada hari pertama di sekolah. MasyaAllah, azzamnya amat kuat :') Mari kita senantiasa berdo'a bahwa Allah Taala memberinya yang terbaik untuk kesehatan dan semua kekuatan yang ia butuhkan untuk menyelesaikan masa-studinya, dan untuk tumbuh menjadi Muslimah mengagumkan, in syaa Allaah:')

Jannah untukmu, adik tersayang. Jannatul Firdous. Aamiiiin

Thursday, 9 May 2013

Jiwa-jiwa Perindu Syurga


  
Sukses itu ketika Allaah tidak meninggalkanmu untuk bergerak sendirian, dan gagal adalah ketika Allah meninggalkanmu untuk mengurus dirimu sendiri.”
-‘Ibn Al Qayyim- 


Mendengar kata sukses, seringnya kita terkaburkan akan definisi sukses itu sendiri. Kebanyakan orang menganggap bahwa sukses itu ketika punya rumah mewah, harta berlimpah, atau istri yang berlimpah pula (?). Tidak salah sih sebenarnya, tapi apa sukses yang kita bayangkan hanya sesempit itu? Mungkin kita pernah membayangkan bagaimana rasanya tinggal di syurga, menikah dengan bidadari yang bermata jeli, atau merasai pertemuan dengan Ilahi Rabbi.  Menurut saya, itu adalah sukses yang sebenarnya, trusted, dan tidak ada tipu-tipu. Sedikit catatan ini akan menceritakan pengalaman seorang sahabat, perindu syurga yang pernah ‘jatuh’ dan merasakan masa-masa terberat dalam hidup sebelum beliau –insyaa Allaah- mendapati hidupnya dalam kesuksesan. Tetapi, sebaik-baik kesuksesan adalah sukses dunia dan akhirat, tidak hanya sukses dunia.

Kami berada dalam ranah yang sama; ranah Bidikmisi ITB, berasal dari daerah terpencil, jauh dari keramaian, pun dari hiruk pikuk udara perkotaan. Tingkat pertama perkuliahan di ITB merupakan masa-masa paling labil yang dialami mahasiswa. Di sisi lain, Indonesia sekarang sedang dihangatkan dengan bisnis MLM, Multi Level Marketing, sebuah prospek bisnis yang menjanjikan. Siapa yang tidak tertarik dengan bisnis ini, bisa dapat uang dengan cara mudah. Tarik orang untuk mendaftar, kemudian orang yang kita rekrut akan merekrut lebih banyak orang lagi, dan seterusnya, dan seterusnya. Sehingga dengan itu uang kita di rekening akan berkembang biak dengan sendirinya. Enak, kan? Nah dalam perspektif Islam sendiri –walaupun ini khilafiyah- masalahnya tidak se-simple itu. Yakinkah kita kalau uang yang kita dapatkan halal atau haram? Tentu ini menjadi sebuah keragu-raguan. Padahal masyarakat Indonesia merupakan penganut madzhab Imam Asy-Syafi’i yang secara jelas bahwa Beliau adalah orang yang sangat berhati-hati pada hal-hal yang bermakna Syubhat (ragu-ragu). Terus gimana donk? Tentunya kita harus lebih jeli lagi, harus mengetahui dasar hukum dalam Islam sebelum kita memutuskan suatu hal. Wallahu a’lam bishshawwab.

Sahabat saya ini belum mengetahui hal tersebut sehingga beliau mengambil resiko untuk ikut MLM yang ditawarkan kakak tingkatnya. Mulai dari uang pendaftaran yang terbilang tidak murah, ditambah lagi seorang sahabat ini ikut segala macam seminar-seminar yang diadakan perusahaan MLM tersebut. Dalam seminar-seminarnya dihadirkan banyak orang-orang yang katanya sudah sukses dalam bidang MLM ini. Nah ini membuat beliau semakin tertarik dan kian semangat untuk ikut. Mulai dari sini beliau mengajak teman-teman beliau untuk bergabung. Hasilnya? Seorang sahabat menghabiskan uang sekitar 6 juta rupiah –angka ini tidak sedikit bagi mahasiswa bidikmisi- yang uang tersebut diambil dari berbagai macam sumber, alias hutang. Kebetulan beliau ini orangnya giat dalam berwirausaha, apalagi jika ada danus (dana usaha) dari berbagai macam Unit Kegiatan Mahasiswa di ITB. Sehingga beliau menggunakan uang tersebut untuk investasinya di MLM. Kuliahnya terbengkalai akibat ikut seminar-seminar yang ada, hutang berlimpah, ibadah terlalaikan, sedangkan beliau tidak mendapatkan hasil apa-apa. Beliau juga sering makan –atau tidak sama sekali- hanya dengan nasi dan kecap karena uangnya habis untuk bisnisnya. Beliau bingung harus dengan cara apa melunasi hutang-hutangnya.

Di akhir perkuliahan semester I beliau mulai merenungi perbuatan yang beliau lakukan. Seorang sahabat kecewa dan kesal dengan dirinya sendiri. Ia sadar bahwa perbuatannya salah, ia takut jika orangtuanya mengetahui hal ini pasti menimbulkan kekecewaan yang teramat sangat. Akhirnya ia bertaubat atas kesalahannya; malamnya ia isi dengan sujud dalam-dalam, air mata pertanda taqwa bercucuran dari pelipisnya, beragam do’a tercurah dari bibirnya. Ia menginsyafi diri. Libur semester di kampung halaman beliau gunakan untuk menjumpai ustadz-ustadz dan guru-guru SMA-nya untuk meminta solusi atas permasalahan yang beliau hadapi. Mereka memberi petuah-petuah kepada sahabat saya dengan lemah lembut dan kasih sayang. Ada satu pernyataan yang paling saya ingat dari gurunya.


“Kalau kamu mau sukses, maka kamu harus bisa menghadapi masalah yang sebagian besar orang tidak bisa menghadapinya. Kamu harus kuat. Allah selalu memberi jalan untuk orang shaleh seperti kamu.”
 



Kata-kata itu membuat kita yang mendengarnya akan merinding dan terharu. Kita jadi merasa masalah-masalah yang selama ini kita hadapi belum ada apa-apanya dibandingkan masalah yang dihadapi seorang sahabat ini. Cerita beliau ini memotivasi kita untuk bergerak lebih banyak dari bicara kita, untuk lebih berhati-hati dalam segala tindakan yang kita ambil, dan untuk mencintai dan mensyukuri apa yang kita miliki.
Inna ma’al ushri yushro, Akhi. Sungguh di tiap masalah yang kita hadapi, Allaah senantiasa menyajikan beragam solusi atas permasalahan kita. Masalah ini pertanda kecintaan Allaah padamu, pertanda level imanmu yang akan meningkat. Bersabarlah.”

Hanya itu yang bisa saya katakan kepada seorang sahabat yang semangatnya membuat kita iri, yang cintanya kepada akhirat melebihi cintanya kepada dunia. Maka pembicaraan hari itu ditutup dengan awan yang teduh menyelimuti ukhuwah kita, angin yang berhembus mesra di tiap desahan nafas, pun dengan dedaunan yang mengharu biru hati kita.

Maka jadilah kita sekokoh-kokoh iman; yang menasehati kala bersalah, yang bertindak atas keteguhan hati, yang niat tulus tak tergoyahkan nafsu semu. Jadilah kita sebaik-baik insan; yang mencintai dengan setulus hati, yang menyayangi dengan sepenuh jiwa, yang hadirnya selalu dinanti-nanti. Jadilah kita sekuat-kuat ukhuwah; yang dengan cinta kita saling bermesra di jalan-Nya, yang dengan harmoni kasih di jalan ini kita saling berpeluk hangat dalam dakwah. Maka jadilah kita jiwa-jiwa perindu syurga; yang insyafnya pertanda taqwa, yang bicaranya menyemangati, yang lebih sering mendengar daripada berbicara, yang lebih banyak bertindak nyata daripada berorasi di dunia maya. Maka ketahuilah Akhi, bahwa aku mencintaimu karena Allaah.


Musibah adalah sapaan halus, yang dengannya engkau mendekat dan mengingat Tuhanmu, bukan ujian jika sudah tahu jawabannya, ujian menguji agar pribadi teruji, jika bukan dengan gesekan-gesekan memilukan, lalu dengan apakah lagi pisau matahatimu akan ditajamkan, dan akan peka untuk melihat, dengan keindahan semesta alam.
-Khadimul Qur’aan-
 

Sunday, 21 April 2013

Amal Jama'i; Sebuah Ajakan



“Persatuan islam bukanlah sebuah mimpi, tapi sebuah cita-cita yang suatu saat nanti pasti terlaksana atas ridhoNya”

Amal jama’i bukanlah bekerja sendiri-sendiri dalam suatu kelompok. Amal jama’i adalah suatu pekerjaan oleh orang-orang yang terstruktur, satu komando, satu perintah, dan ada spesialisasi da’wahAmal Jama’i (gerakan bersama) secara bahasa berarti “sekelompok manusia yang berhimpun bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama.” Al-‘amalul al-jamaa’i berarti bekerja sama berdasarkan kesepakatan dan bekerja bersama-sama sesuai tugas yang diberikan untuk memantapkan amal. Jadi, Al-‘amalul al-jamaa’i mendistribusikan amal (pekerjaan) kepada setiap anggota berdasarkan potensi yang dimilikinya untuk mencapai tujuan.

Dalam kehidupan, amal jama’i (gerakan bersama) adalah sebuah kemestian. Tidak ada satu orang pun dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan pertolongan orang lain. Orang yang kaya membutuhkan si miskin untuk membantu tugas-tugas sehari-harinya. Orang miskin pun membutuhkan orang kaya.
Jika dalam kehidupan saja kita tidak terlepas dari amal jama’i, maka dalam sebuah perjuangan mencapai tujuan tertentu, atau cita-cita tertentu, maka amal jama’i lebih sangat dibutuhkan. Para pendahulu kita dahulu tidak mungkin dapat mewujudkan Indonesia Merdeka tanpa adanya amal jama’i (kerja sama). Demikian juga, sehebat apapun seorang Nabi atau Rasul tidak mungkin dapat mewujudkan negara Madinah tanpa adanya kerja sama antara kaum muslimin, terutama kaum Muhajirin dan Anshar. Oleh karena itu kerja sama atau amal jama’i mutlak dilakukan dalam mewujudkan sebuah cita-cita atau tujuan.

Dengan demikian, amal jama’i ini memiliki beberapa buah ciri sebagai berikut:
1. Aktivitas yang dijalankannya harus berdasarkan keputusan jamaah
2. Mempunyai sistem organisasi yang lengkap dan aktivitas dijalankan secara rapi dan tersusun
3. Tindakan dan kegiatannya sesuai dengan strategi pendekatan yang telah digariskan oleh jamaah
4. Seluruh kegiatannya bertujuan untuk mencapai cita-cita yang telah ditetapkan bersama

Kemudian, tujuan dari amal jama’i antara lain:
1. Distribusi pembagian tugas (Tau zii’ul ‘amal)
2. Meringankan beban da’wah (Tahfiiful a’baaidda’wah)
3. Menumbuhkan potensi (tau thifuthaqqah)

Lalu, apa sebenarnya yang mengharuskan kita ber-amal jama’i? Untuk tahu lebih dalam mengenai alasan ber-amal jama’i, mari kita simak ulasan berikut ini:

Pertama, Dustur Illahi. “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Q.S Ali Imran: 104). Dalam ayat ini Allah telah mengisyaratkan tentang wajibnya melaksanakan dakwah secara amal jama’i.

Kedua, karena amal jama’i adalah tabiat alam (natural). Tata surya adalah amal jama’i. “Ada yang memimpin dan ada yang dipimpin.” Amal Jama’i adalah sebuah sunnatullah. Bangsa semut tidak dapat membuat sarang atau menyimpan makanan tanpa adanya kerjasama di antara mereka. Bila kita melihat kehidupan semut, betapa mereka ulet dan saling bergotong royong dalam bekerja. Bahkan bila seekor semut bertemu dengan kawannya dia berhenti sejenak dan saling besalaman. Demikian juga pada kehidupan lebah, mereka mempunyai tugas masing-masing dalam mengembangkan dirinya dan di antara mereka tercipta kerjasama yang harmonis dalam bekerja.

Ketiga, karena manusia adalah makhluk sosial. Meskiupun nabi Adam telah disediakan segala kenikmatan surga, namun beliau masih saja merasa kurang jika tidak ada teman dalam hidupnya. Sehingga Allah menciptkan Hawa sebagai teman hidupnya. Demikian pula kita dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat hidup sendiri, melainkan membutuhkan bantuan orang lain.
Keempat, Dakwah secara jama’ah adalah dakwah yang paling efektif dan sangat bermanfaat bagi Gerakan Islam. Sebaliknya da’wah secara sendirian akan kurang pengaruhnya dalam usaha menanamkan ajaran Islam pada umat manusia.

Kelima, ber-amal jama’i (bergerak secara bersama) akan memperkuat orang-orang yang lemah dan menambah kekuatan bagi orang-orang yang sudah kuat. Satu batu bata saja akan tetap lemah betapapun matangnya batu bata tersebut. Ribuan batu bata yang berserakan tidak akan membentuk kekuatan, kecuali jika telah menjadi dinding, yaitu antara batu bata yang satu dengan yang lain telah direkat dan ditata secara rapi. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (Q.S Al Maaidah: 2).

Jikalau kita mencoba mendalami dan kembali kepada sejarah di masa-masa nabi, tepatnya d masa-masa antara nabi isa dan nabi Muhammad, menurut sebuah riwayat, jarak di anatara kedua utusan Allah itu sekitar 7 abad. Kurun waktu yang begitu lama tersebut ternyata membawa sebuah dampak bagi umat manusia pada waktu itu. Mereka yang pada awalnya sudah dapat ternaungi oleh islam, lama-kelamaaan perilaku dan sifatnya bergeser kembali ke masa-masa jahiliyah.

Dengan merenungkan cerita di atas, sudah sepantasnya kita melihat kurun waktu sekarang, di mana banyak sekali pergeseran-pergeseran yang seringkali tidak kita sadari. Sebuah kebaikan jika pergeseran itu membuat kita semakin dekat dengan Illah, namun alangkah meruginya jika pergeseran-pergeseran yang terjadi ini justru semakin menjauhkan diri kita dar Allah, Tuhan Semseta Alam.
Oleh sebab itu, sudah saatnya kita senantasa bermuhasabah diri dengan apa yang telah dan akan kita lakukan. Dengan muhasabah diri, diharapkan kita dapat senantiasa mendekatkan diri dari Allah.

***

Apakah itu amalan jama’i?
Jika kita membicarakan pengertian amalan jama’i, ada tiga kunci yang menjadi landasan utama pengertian dari amalan jama’i, yaitu :
1. Sebuah amalan yang dikerjakan secara bersama-sama
2. Terorganisir
3. Berlandasakan pada kesepakatan/musyawarah/syuro
4. Dalam sebuah amalan jama’I ada beberapa hal yang harus ada keberadaannya, yaitu:
    a. Pemimpin
    b. Yang dipimpin
5. Manhaj/landasan
6. Seorang pemimpin yang baik adalah seorang yang mampu mengkoordinir para jundinya, Ketika seorang jundi mendapatkan sebuah amanah yang bukan spesifkasinya, maka harus ada pembelajaran sehingga para jundi tidak akan menolak dengan amanah yang akan diberikan. Seorang jundi yang baik adalah yang mampu memahami tugas yang diberikan oleh pemimpinnya., namun bukan berarti hal ini membuat sang pemimpin dapat bertindak semena-mena, karena tetap dasar dari kegiatan amalan jama’I adalah Quran dan sunnah.
Ada sebuah hubungan timbal balik antara seorang pemimpin dengan yang dipimpin. Sebuah amalan jama’I juga harus berlandasakan pada suatu manhaj. Ketika sebuah kelompok telah menyepakati sesuatu, maka setiap anggota dalam syuro maupun musyawarah wajib melaksanakan hasil kesepakatan syuro.

Di zaman sekarang, banyak sekali bermunculan perbedaan pendapat di dalam sebuah kegiatan dakwah, sehingga orientasi yang seharuasnya terfokus pada ajaran islam justru bergeser menjadi ajang perlombaan untuk menjadi ormas islam terbaik. Oleh karena itulah, menjadi kewajiban kita adalah mempersatukan beberapa perbedaan itu dengan amalan jama’i.  Dengan amalan-jama’i diharapkan maksud dan tujuan dakwah yang sebenarnya dapat dikembalikan lagi.

Bagaimana bisa amalan jama’i mempersatukan umat islam?
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad:
Umat nabi Muhammad akan mengalami lima fase:
1. Fase Kenabian
2. Fase khulafaur rosyidin
3. Fase kerajaan-kerajaan islam (mulai goyah)
4. Fase dikatator (syariat islam tidak ada sama sekali)
5. Fase Kehdupan setelah mati (syariat islam akan muncul lagi)

Sebuah riwayat lain mengatakan bahwa di hari akhir nanti ada 7 golongan dan satu-satunya golongan yang masuk surga adalah ahli sunnah wal jamaah. TItik utama dari beberapa hadits dan riwayat ini adalah bahwasanya orang yang masuk golongan ahli sunnah wal jamaah berpegang teguh pada al quran, sunnah, ijma. Cara mempersatukannya adalah kembali lagi kepada Al Quran dan as sunnah. Lalu? Ada di fase manakah kita? Jelas, kita sedang berada di fase ke empat. Di mana syariat islam hamper dan bahkan tidak ada sama sekali.
=================================================================
Referensi :
Etika Jamaah
Paradigma Baru Dakwah Kampus

Source:
http://kammistksbandung.wordpress.com/2013/03/16/pentingnya-amal-jamai/
http://kmmp.faperta.ugm.ac.id/2012/07/halaqoh-amaan-jamai/


Saturday, 13 April 2013

Karena Pribadimu; ialah Cermin dari Hatimu


Abdul Wahid

“Karena menanam kebaikan ialah memelihara hati; kau siram ia dengan sholatmu, kau jadikan hafalanmu sebagai pupuknya, kau jadikan iman sebagai cahayanya. Lalu kau menyungging senyum sebab yang kau tau buahnya ialah akhlaq yang manis, renyah, dan lezat; rahmat bagi sekalian alam.”

Entah kenapa, setiap kali membahas sesuatu, apapun itu, saya selalu menyelaraskannya, dan juga menyangkut-pautkannya dengan hati. Ya, sebab yang saya tau, hati itu ialah yang inti; yang paling dalam, yang paling benar, yang paling jujur, yang paling suka menebar kebaikan. Ialah hati; yang penuh damai, penuh kelembutan, penuh ketulusan. Sebab hati, hanya bisa disentuh oleh hati juga. Dan hati ialah inti dari akhlaq yang mulia; inti dari pribadi muslim yang sejati.

Sepuluh -10- Ciri Pribadi Muslim yang Ideal
-Muwashoffat Tarbiyah-


Salimul Aqidah (Good Faith) – Aqidah yang Bersih
Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan- ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam’ (QS 6:162). Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.

Sahihul Ibadah (Right Devotion) – Ibadah yang Benar
Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: ’shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.’ Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

Matinul Khuluq (Strong Character) – Akhlaq yang Kokoh
Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setkal muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al- Qur’an, Allah berfirman yang artinya: ‘Dan sesungguhnya kamu benar- benar memiliki akhlak yang agung’ (QS 68:4).

Qowiyyul Jismi (Phisical Power) – Kekuatan Jasmani
Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk- bentuk perjuangan lainnya. Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: ‘Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah’ (HR. Muslim).

Mutsaqqoful Fikri (Thinking Brilliantly) – Wawasan luas (Intelektualitas)
Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia antuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: ‘pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219). Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatka pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah:samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).

Mujuhadatun Linafsihi (Continence) – Berjuang Melawan Hawa Nafsu
Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatun linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setkal diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beragmana seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).

Haritsun'ala Waqtihi (Good Time Management) – Pandai Menjaga Waktu
Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, Yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan:
‘Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.’ Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

Munazhzhamun fi Syu'unihi (Well Organized) – Teratur dalam Suatu Urusan
Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu udusán dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasih ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.

Qodirun'alal Kasbi (Independent) – Mandiri
Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena itu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memilik keutamaan yang sangat tinggi. Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.

Naafi'un Lighoirihi (Giving Contribution) – Bermanfaat bagi orang lain
Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tirák mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir).



Saturday, 15 December 2012

Boleh Kusebut Kau Pelangi?


Abdul Wahid

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
Q.S. At-Taubah: 41 


Bermula di tempat itu, Mesjid Salman ITB; sebuah masjid yang elok didengar di penjuru alam; masjid yang aku tak habis pikir akannya sejak awal berkenalan di kota ini, kota yang juga amat masyhur terngiang di pelosok Negeri; kota Bandung. Adapun masjid ini, merupakan mesjid yang amat memesona bagiku; dan mungkin bagi banyak orang lainnya; termasuk bagi sahabat-sahabat kami yang ada di Majelis Ta’lim Salman ITB. Sebab, bermula dari masjid inilah sejarah baru hidup kami terbentuk.

Kala SMA dulu, aku sempat mengaktifkan diri di sebuah kelompok yang terdengar asing kalau kita baru pertama kali mendengarnya, sebut saja namanya Rohis. Ya, Rohis; yang merupakan singkatan dari Kerohanian Islam. Asin, pahit, asam, manis, begitu yang aku rasakan sejak mengikuti Rohis. Ketika keadaan harus dibenturkan dengan realita yang ada di masyarakat pada umumnya, dan di keluarga pada khususnya. Memang, keluarga kami bukanlah keluarga yang terlahir dari keturunan para Nabi dan Rasul, tidak juga para syuhada, apalagi para ulama. Keluarga kami terlahir sederhana, dari pengetahuan agama yang sederhana pula. Dan ketika itulah aku ditabrakkan pada sebuah kenyataan yang amat sulit. Namun, aku percaya pada janjiNya, bahwa, “..bersama kesulitan itu ada kemudahan..” Ah, rasanya kesulitan-kesulitan itupun sedikit demi sedikit sirna, dan Puji Syukur hanya pada Allaah yang sampai saat ini masih mengizinkanku untuk merasai indahnya Islam yang tak tergambar oleh kata-kata, dan ketahuilah; bahwa aku bangga terlahir sebagai muslim.

Bertamat SMA, aku melanjutkan ke itb, dan hendak melanjutkan kelompok halaqoh yang dulu sempat ditanam, dan lagi, Puji Syukur pada Allaah yang Maha Mempermudah segala urusan. Dan akhirnya aku menemukan kelompok halaqoh baru, dengan saudara-saudara baru, yang sebenarnya telah lama dipersatukan lewat do’a, dan juga ukhuwah Islamiyah. Dari sinilah mulanya aku mengenal Majelis Ta’lim Salman ITB; sebuah kelompok kajian yang disebut RasuluLlaah sebagai taman-taman syurga; yang menjadi tonggak sejarah baru bagi kami; para penggenggam hujan, para pejuang Al-Qur’an, para Anggota Muda Majelis Ta’lim Salman ITB. Dan apakah aku boleh memanggilmu pelangi?

Ya, tak salah jika ku sebut kau pelangi. Kau ibarat pelangi; yang warninya amat dinantikan; yang begitu dirindukan ummat setelah hujan turun. Dan Majelis ini pun demikian, amat dinantikan kala gaungnya tak terdengung lagi. Sebab, antusiasme dan semangat kami –para anggota muda- begitu menggema, hingga mungkin menggetarkan samudera-samudera yang luas terbentang; meruntuhkan gunung-gunung yang tinggi menjulang, dan memang itulah yang aku senangi dari jiwa muda, sampai awan-awan pun mungkin cemburu pada semangat kami yang begitu menggelora.

Mungkin tak salah jika ku sebut kau pelangi. Dan kau memang pelangi; yang warnanya amat memabukkan bagi setiap insan yang mencicipi. Dan begitupun engkau, hai Majelis ilmu! Kau membuat kami menagih untuk mencicipimu kembali. Disaat banyak orang yang mabuk dan ketagihan akan khamr dan obat-obat terlarang; di Majelis ini manusia mabuk dan akan terus haus akan ilmu-ilmu yang amat bermanfaat; akan saudara-saudara se-iman yang telah disatukan rindu-rindu yang membasahi kalbu.

Tak salah jika ku sebut kau pelangi. Kenapa engkau seperti pelangi? Atau pelangikah yang sepertimu? Sebab pelangimu itu amat menyejukkan hati kami kala merasai pertemuan denganmu. Ketika gulana kami menggunung, mungkin engkau salah satu tempat kami bercerita, yang sedikit-banyaknya mampu meredakan gulana kami. Mengapa engkau begitu menyejukkan? Mungkin dikarenakan Al-Qur’an yang senantiasa engkau ramaikan bersama awan; yang engkau baca, engkau pelajari, engkau amalkan, engkau ajarkan, engkau hafalkan, dan engkau senandungkan dengan amat syahdunya. Sebab yang ku tahu, engkau selalu
merujuk pada sabda Nabi yang syahdu terdengar di telinga kita.

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Ah, bahagia sekali rasanya pernah membersamai kalian dalam dakwah ini. Dalam dakwah yang sejatinya  tidaklah mudah; dakwah yang penuh godaan dan cobaan, dakwah yang bukan permainan belaka, dakwah yang bukan hanya menuntut harta, tapi juga jiwa dan raga. IkhwatifiLlaah, berangkatlah dengan keadaan lapang maupun sempit, dalam kondisi apapun, dalam situasi apapun. Apakah syurgaNya tak begitu menggiurkan bagimu?

Monday, 1 October 2012

Semua Karena Cinta


Abdul Wahid

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). Q.S. Al-An'aam: 59


Institut Teknologi Bandung; kampus ter-masyhur, kampus ter-indah, kampus ter-bagus, kampus ter-sopan, kampus ter-disiplin. Kampus tempat bernaungnya orang-orang terbaik dari seluruh Indonesia, kampusnya siswa-siswi hasil ‘tempaan’ BimBel, juga merupakan tempat kuliah anak-anak -yang katanya- ‘terkaya’ Bangsa, begitu kata orang tentang Institut Teknologi Bandung; kampus dambaan siswa-siswi se-Indonesia yang akan menamatkan masa SMA, kampus yang sepanjang sejarahnya mampu menetaskan engineer-engineer berkualitas yang mampu bersaing dengan engineer dari negara lain. Inilah kisahku menuju kampus idaman, kampus yang katanya berwarna-warni; kampus yang kerennya tiada tara. Saksikanlah, petualanganku mencari pelangi; mencari hujan yang sempat dicuri.
Adalah aku; satu dari ribuan orang beruntung yang berkesempatan menjejaki kampus terbaik ini. Entahlah, sampai sekarang aku juga belum tau mengapa ITB ‘menculik’ jiwa dan ragaku untuk bergabung bersamanya. Dan rasanya masih ada rasa tak pantas, jika aku harus bergabung dalam keluarga besar ITB; apalagi di fakultas besar bernama Sekolah Teknik Elektro dan Informatika. Ah, hati kecilku seringkali berbisik, “adapun yang terjadi ini; semua karena cintaNya; cinta kasih kepada hambaNya.”
Adalah aku; seorang biasa yang dilahirkan oleh orang luar biasa; orangtuaku. Ya, orangtuaku; yang senantiasa memberiku semangat, motivasi, harapan, serta angan yang membuatku kuat hingga saat ini. Merekalah; orangtua yang paling cinta pada anaknya, melebihi cinta mereka pada diri mereka sendiri. Adapun kakak-kakakku, mereka ber-empat yang senantiasa memberi dorongan secara material dan ruhaniyah untukku. Meski terkadang menyebalkan, ketahuilah; aku mencintai kalian dengan sepenuh hatiku, dan....aku bangga dan bahagia telah terlahir dari keluarga ini; keluarga yang nyaman dan membawa kenyamanan, keluarga yang damai dan membawa kedamaian, keluarga yang ceria dan membawa keceriaan; dan...ini semua karena cinta.
Ya; semua karena cinta, sejak saya mengidamkan ITB kala SMP dulu; kelas IX tepatnya. Saat itu, kakakku sedang melihat-lihat daftar Perguruan Tinggi di Indonesia, penasaran, sesekali aku melirik ke arah kertas-kertas yang kakakku lihat itu. Seluruh Perguruan Tinggi Negeri aku pelototi satu persatu, sampailah pada satu perguruan tinggi yang namanya agak mencolok; Institut Teknologi Bandung. Aku tertarik dengan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, apalagi ditambah dengan cerita dari kakakku mengenai fakultas tersebut. Dan terlintaslah sebuah angan untuk menuju kampus itu, yang lagi-lagi katanya terbaik di negeri ini. Tapi, angan tinggallah angan, mimpi hanyalah mimpi. Aku mengidamkan, tapi rasanya aku tak memiliki niat yang kuat untuk bisa masuk ke kampus itu. Sebab, aku berpikir rendah tentang diriku; mana bisa orang dari kampung pedalaman lulus di kampus se-bagus itu? Ah, mimpi. Lagi-lagi aku mimpi; mimpi aneh di siang bolong.
Semua karena cinta, ketika mimpiku tentang ITB berlanjut sampai ke SMA. Seringkali, aku melihat berita-berita tentang kehebatan kampus ganesha itu. Ah, rasanya kelas XI SMA masih belum pantas berangan-angan masuk ke kampus tersebut. Ku kuatkan hatiku, “You can do it! You can do it!” Baiklah, masalah hati sudah selesai, sekarang masalahnya berbeda. Aku tak lagi mengidamkan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, saat itu aku mengidamkan...Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati. Lah, kenapa? Ya, jelas. Fakultas itu adalah fakultas yang cukup rendah passing gradenya. Aku mengenal diriku; kemampuanku. Itu sebabnya mengapa aku memilih SITH di kelas XI.
Ini semua karena cinta, kala galau menguasai diriku. Ya, aku sudah naik ke kelas XII, masa-masa akhir di tingkat menengah atas. Di kelas XII ini, aku harus merangkai peta hidup; termasuk sesegera mungkin menentukan PTN yang akan aku tempati untuk berguru ilmu setelah menamatkan masa SMA. Di semester pertama kelas XII, aku memfokuskan diri pada Ujian Nasional yang merupakan penentu lulus atau tidaknya masa SMA. Saat itu, aku hanya memfokuskan pada UN saja, dan soal PTN, itu urusan belakangan, yang penting lulus dulu. Begitu pikirku kala itu. Di sela-sela masa belajar untuk UN, kusempatkan sedikit waktu untuk mempelajari soal-soal SNMPTN tahun-tahun lalu, serta mencari informasi beasiswa, Perguruan Tinggi Negeri, Perguruan Tinggi Kedinasan, dan informasi lain yang dirasa perlu untuk menunjang masa depanku. Aku berhasil mengonsep peta hidupku.
Dan ini semua masih karena cinta. Bulan november adalah masa-masa sulit dalam perjalanan masa SMA, selain harus mengejar prestasi akademik di Ujian Nasional, aku juga harus mendaftarkan diri di Perguruan Tinggi Kedinasan, ataupun yang sejenisnya. Lulus tak lulus, yang penting daftar dulu. Hari demi hari berlalu, aku menemukan puncak dari masa sulitku. Ayahku sakit, seringnya beliau mengeluarkan cairan dari lambungnya, dari hatinya, dari perutnya, juga dari duburnya. Cairan itu disebut darah –begitu orang bilang-. Berulang kali kami mengantarkannya ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapat pertolongan; baik itu transfusi darah, atau yang lainnya.
Semua..karena..cinta... Hm, 3 Desember 2011. Ah, rasanya aku ingat sekali dengan tanggal itu. Tanggal yang paling menyejarah dalam hidup, tanggal yang membuat hujan berkerumun membasahi tanah, tanggal yang...tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ya, tanggal itu adalah saat ayahku dipanggil oleh Allaah untuk kembali ke hadiratNya; pukul 6 pagi tepatnya. Hari sabtu, yang harusnya digunakan anak-anak untuk bermain bersama keluarga, berkumpul, dan bercengkrama. Tapi mungkin, hari itu dijadikan rindu-rindu yang membasahi kalbu. Ah, rindunya aku masa-masa itu; kala ayahku berpesan padaku untuk menjadi anak yang pintar, anak yang pintar, anak yang pintar.

Dan untuk Ayahku, ketahuilah, ada rindu yang dijahit oleh manisnya benang cinta diujung kalbu. Ada sendu dibalik malu-malu. Ada sesuatu....yang akupun tak tau apa itu. Aku rindu pada hidupmu. Pada rendahnya hatimu. Pada hangatnya pelukmu. Pada...kasih, dan sayangmu..
Semua masih karena cinta; kala pesan singkat menghujani ponselku, semua membunyikan tema yang sama, “Akhi, semoga Allaah menerima amal ibadah Ayahanda; dan semoga keluarga diberi ketabahan, kesabaran...” Ah, pesan-pesan itu, rasanya bahagia sekali, ternyata masih ada yang perhatian padaku, padahal tak banyak manfaat yang bisa kuberikan pada mereka. Malah, ada seorang teman yang sampai sekarang masih aku ingat pesannya, “Wahid, tetap semangat! Buat ayahmu tersenyum di sana. Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan menantimu di SNMPTN 2012.” Pesan itu, laksana api yang membakar semangatku untuk maju, maju, dan maju. Dan, untuk sahabat-sahabatku; pelangimu yang memabukkan itu tak akan bisa dihapus malam yang kelam sekalipun. Ana Uhibbukum fiLlaah.
Semua karena cinta yang menggunung itu; aku jadi lebih bersemangat dan siap mengahadapi halangan, juga tantangan di masa mendatang. Satu persatu masalah bisa terselesaikan. Termasuk mendaftar di SNMPTN 2012 Jalur Undangan. AlhamduliLlaah, Allaah memberiku kesempatan untuk mengikuti jalur undangan melalui jalur Bidik Misi Dikti yang diadakan sebelum Ujian Nasional. Fix, aku memilih ITB dan ITS dalam pilihan PTN di SNMPTN Jalur Undangan. Dan yang perlu diketahui adalah, aku merubah pilihanku di semester kedua kelas XII, aku memutuskan untuk memilih...Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, aku sudah memantapkan hati untuk mengambil jurusan Teknik Material di tahun kedua. Namun anehnya, aku tak meletakkan FTMD di prioritas pertama, aku menaruhnya di pilihan kedua. Pilihan pertama aku pilih Sekolah Teknik Elektro dan Informatika; dengan harapan tak lulus di pilihan pertama. Dan memang, aku pesimis untuk lulus di ITB, sebab kita semua paham, untuk masuk ke ITB itu harus mengalahkan siswa-siswi terbaik dari seluruh Indonesia; dan rasanya, orang kampung sepertiku ini tak pantas, dan mungkin akan jadi guyonan warga kampung saja.
Semua karena cintaNya yang tak terhingga yang tak bisa dihitung jumlahnya. Ujian Nasional menghampiri siswa-siswi se-Indonesia. AlhamduliLlaah, aku bisa mengerjakan soal dengan lancar, dan tak ada hambatan yang berarti. Kala hari-hari ujian Nasional selesai, aku berangkat ke Berastagi; membantu kakakku berdagang roti bakar. Lumayan, seribu dua ribu bisa mengisi pundi-pundi yang haus karena kemarau panjang. Sehari sebelum pengumuman UN, aku pulang ke Binjai karena esoknya aku harus ke sekolah untuk melihat pengumuman Ujian Nasional. The Day has come. Aku ke sekolah yang penuh cinta; SMA Negeri 2 Binjai, bersama kakakku, kami menanti pengumuman dengan harap-harap cemas. Dan, AlhamduliLlaah, aku lulus. Selesai sudah masa SMA yang indah itu. Aku harus bersiap menuju masa depan yang telah Dia rencanakan. Di hari yang sama, pengumuman SNMPTN Jalur Undangan dilaksanakan jam 17.00 sore. Memang, panitia SNMPTN mempercepat jadwal dari yang telah ditentukan. Sesampainya di rumah, tepat jam 17.00 sore, aku langsung membuka laptop dan hendak melihat pengumuman. Jujur, aku belum berani melihatnya. Aku cemas. Aku gundah gulana. Kecemasanku menggunung; hingga sampailah sepucuk pesan menghampiri ponselku, “AlhamduliLlaah, Hid. Saya lulus di Fakultas Kedokteran Univ. Sumatera Utara..” Salah seorang sahabatku lulus di Fakultas paling prestisius di Universitas tersebut. Aku bahagia, sangat bahagia. Satu persatu pesan berdatangan, dan kesemuanya memberi kabar bahagia. Akhirnya, aku beranikan diri melihat pengumuman... Perlahan ku ketik alamat websitenya, ku ketik nomor pendaftaran, lalu NISN. Dan hanya Allaah-lah yang Maha Berkehendak; aku telah merelakan hidupku padaNya, aku ridho pada apa yang diturunkanNya, dan aku hanya berharap yang terbaik dariNya. Aku terperanjak, sebuah pesan manis tampil di depan layar, “Selamat, Anda dinyatakan lulus melalui SNMPTN - Jalur Undangan di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung.” Tersentak, aku langsung sujud syukur dan teriak keras; menangis dan tak bisa berbuat apa-apa.

“Oh, Allaah... Berjuta kata syukur terucap-pun tak akan bisa mewakili nikmat-Mu yang teramat banyak..”

...sebab semua karena cinta...

Saturday, 14 April 2012

Sedikit renungan; Untuk diri sendiri..


"Dimana rumahmu Nak?

Orang bilang anakku seorang aktivis . Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana .  Orang bilang anakku seorang aktivis.Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat . Orang bilang anakku seorang aktivis .Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak ? Ibu bilang engkau hanya seorang putra kec...il ibu yang lugu.

Anakku,sejak mereka bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis. Dengan segala kesibukkanmu,ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak, tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.

Anakku,kita memang berada disatu atap nak,di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini. Tapi kini dimanakah rumahmu nak?ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini . Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah,dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu . Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut.Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu . Ah,lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti,bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu . Atau jangankan untuk tersenyum,sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau,katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal,andai kau tahu nak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini,memastikan engkau baik-baik saja, memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak, tapi bukankah aku ini ibumu ? yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku..

Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu,engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu . Engkau nampak amat peduli dengan semua itu,ibu bangga padamu .Namun,sebagian hati ibu mulai bertanya nak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak ? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu ? kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak ? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak ?

Anakku,ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu.Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu . Memang nak,menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan .Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak? bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?

Anakku, ibu mencoba membuka buku agendamu .Buku agenda sang aktivis.Jadwalmu begitu padat nak,ada rapat disana sini, ada jadwal mengkaji,ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting.Ibu membuka lembar demi lembarnya, disana ada sekumpulan agendamu,ada sekumpulan mimpi dan harapanmu.Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana.Ternyata memang tak ada nak,tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini. Tak ada cita-cita untuk ibumu ini . 
Padahal nak,andai engkau tahu sejak kau ada dirahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu,putra kecilku..

Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka,mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional. Boleh ibu bertanya nak,dimana profesionalitasmu untuk ibu ?dimana profesionalitasmu untuk keluarga ? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat ?

Ah,waktumu terlalu mahal nak.Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu..

Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta,ibu,ayah,kaka dan adik . Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik .Dan hingga saat itu datang,jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan. Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan .Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai. Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus,untuk mereka sang penopang semangat juang ini . Saksikanlah,bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang kita lakukan. Karena tanpa ridhamu, Mustahil kuperoleh ridhaNya..."

Ya, sesibuk apapun kalian, tetaplah luangkan waktu buat keluarga. 
Bagi yang jauh merantau di sana, minimal telepon/SMS keluarga 3 hari sekali. 
Boleh jadi kita profesional di mata orang. Tetapi, apakah kita sudah profesional di mata orang tua kita??

Saturday, 28 January 2012

Sepotong Perjalanan

“Jika kita sering mendengar dan mengatakan bahwa jalan dakwah ini adalah jalan yang ditempuh para Nabi, maka kitapun seharusnya sudah memahami dan menyadari karakter perjalanan ini yang memang bukan perjalanan yang nikmat dan nyaman serta penuh santai. Tapi inilah jalan yang sudah kita pilih, untuk kita lalui dalam hidup dan menuju kebahagiaan hakiki di akhirat. Maka kita harus mengikat diri dengan jalan ini dan dengan saudara-saudara kita di jalan ini. Ada 5 ikatan yang setidaknya mengharuskan kita tetap berada di sini:

Rabithatu al ‘aqidah (Ikatan Akidah), Rabithatu al Fikrah (Ikatan Pemikiran), Rabithatu al Ukhuwah (Ikatan Persaudaraan), Rabithatu at tanzhim (Ikatan Organisasi), Rabithatu al ‘ahd (Ikatan Janji). Andai di tengah perjalanan, kita harus mengalami terpaan, ujian, fitnah dan godaan, kita berharap kelima buhul ikatan kita itu tidak membiarkan kita terhempas dari jalan ini.” 

(Sender: Intan P)