Karena Pribadimu; ialah Cermin dari Hatimu


Abdul Wahid

“Karena menanam kebaikan ialah memelihara hati; kau siram ia dengan sholatmu, kau jadikan hafalanmu sebagai pupuknya, kau jadikan iman sebagai cahayanya. Lalu kau menyungging senyum sebab yang kau tau buahnya ialah akhlaq yang manis, renyah, dan lezat; rahmat bagi sekalian alam.”

Entah kenapa, setiap kali membahas sesuatu, apapun itu, saya selalu menyelaraskannya, dan juga menyangkut-pautkannya dengan hati. Ya, sebab yang saya tau, hati itu ialah yang inti; yang paling dalam, yang paling benar, yang paling jujur, yang paling suka menebar kebaikan. Ialah hati; yang penuh damai, penuh kelembutan, penuh ketulusan. Sebab hati, hanya bisa disentuh oleh hati juga. Dan hati ialah inti dari akhlaq yang mulia; inti dari pribadi muslim yang sejati.

Sepuluh -10- Ciri Pribadi Muslim yang Ideal
-Muwashoffat Tarbiyah-


Salimul Aqidah (Good Faith) – Aqidah yang Bersih
Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan- ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam’ (QS 6:162). Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.

Sahihul Ibadah (Right Devotion) – Ibadah yang Benar
Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: ’shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.’ Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

Matinul Khuluq (Strong Character) – Akhlaq yang Kokoh
Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setkal muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al- Qur’an, Allah berfirman yang artinya: ‘Dan sesungguhnya kamu benar- benar memiliki akhlak yang agung’ (QS 68:4).

Qowiyyul Jismi (Phisical Power) – Kekuatan Jasmani
Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk- bentuk perjuangan lainnya. Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: ‘Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah’ (HR. Muslim).

Mutsaqqoful Fikri (Thinking Brilliantly) – Wawasan luas (Intelektualitas)
Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia antuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: ‘pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219). Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatka pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah:samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).

Mujuhadatun Linafsihi (Continence) – Berjuang Melawan Hawa Nafsu
Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatun linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setkal diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beragmana seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).

Haritsun'ala Waqtihi (Good Time Management) – Pandai Menjaga Waktu
Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, Yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan:
‘Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.’ Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

Munazhzhamun fi Syu'unihi (Well Organized) – Teratur dalam Suatu Urusan
Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu udusán dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasih ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.

Qodirun'alal Kasbi (Independent) – Mandiri
Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena itu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memilik keutamaan yang sangat tinggi. Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.

Naafi'un Lighoirihi (Giving Contribution) – Bermanfaat bagi orang lain
Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tirák mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir).



Boleh Kusebut Kau Pelangi?


Abdul Wahid

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
Q.S. At-Taubah: 41 


Bermula di tempat itu, Mesjid Salman ITB; sebuah masjid yang elok didengar di penjuru alam; masjid yang aku tak habis pikir akannya sejak awal berkenalan di kota ini, kota yang juga amat masyhur terngiang di pelosok Negeri; kota Bandung. Adapun masjid ini, merupakan mesjid yang amat memesona bagiku; dan mungkin bagi banyak orang lainnya; termasuk bagi sahabat-sahabat kami yang ada di Majelis Ta’lim Salman ITB. Sebab, bermula dari masjid inilah sejarah baru hidup kami terbentuk.

Kala SMA dulu, aku sempat mengaktifkan diri di sebuah kelompok yang terdengar asing kalau kita baru pertama kali mendengarnya, sebut saja namanya Rohis. Ya, Rohis; yang merupakan singkatan dari Kerohanian Islam. Asin, pahit, asam, manis, begitu yang aku rasakan sejak mengikuti Rohis. Ketika keadaan harus dibenturkan dengan realita yang ada di masyarakat pada umumnya, dan di keluarga pada khususnya. Memang, keluarga kami bukanlah keluarga yang terlahir dari keturunan para Nabi dan Rasul, tidak juga para syuhada, apalagi para ulama. Keluarga kami terlahir sederhana, dari pengetahuan agama yang sederhana pula. Dan ketika itulah aku ditabrakkan pada sebuah kenyataan yang amat sulit. Namun, aku percaya pada janjiNya, bahwa, “..bersama kesulitan itu ada kemudahan..” Ah, rasanya kesulitan-kesulitan itupun sedikit demi sedikit sirna, dan Puji Syukur hanya pada Allaah yang sampai saat ini masih mengizinkanku untuk merasai indahnya Islam yang tak tergambar oleh kata-kata, dan ketahuilah; bahwa aku bangga terlahir sebagai muslim.

Bertamat SMA, aku melanjutkan ke itb, dan hendak melanjutkan kelompok halaqoh yang dulu sempat ditanam, dan lagi, Puji Syukur pada Allaah yang Maha Mempermudah segala urusan. Dan akhirnya aku menemukan kelompok halaqoh baru, dengan saudara-saudara baru, yang sebenarnya telah lama dipersatukan lewat do’a, dan juga ukhuwah Islamiyah. Dari sinilah mulanya aku mengenal Majelis Ta’lim Salman ITB; sebuah kelompok kajian yang disebut RasuluLlaah sebagai taman-taman syurga; yang menjadi tonggak sejarah baru bagi kami; para penggenggam hujan, para pejuang Al-Qur’an, para Anggota Muda Majelis Ta’lim Salman ITB. Dan apakah aku boleh memanggilmu pelangi?

Ya, tak salah jika ku sebut kau pelangi. Kau ibarat pelangi; yang warninya amat dinantikan; yang begitu dirindukan ummat setelah hujan turun. Dan Majelis ini pun demikian, amat dinantikan kala gaungnya tak terdengung lagi. Sebab, antusiasme dan semangat kami –para anggota muda- begitu menggema, hingga mungkin menggetarkan samudera-samudera yang luas terbentang; meruntuhkan gunung-gunung yang tinggi menjulang, dan memang itulah yang aku senangi dari jiwa muda, sampai awan-awan pun mungkin cemburu pada semangat kami yang begitu menggelora.

Mungkin tak salah jika ku sebut kau pelangi. Dan kau memang pelangi; yang warnanya amat memabukkan bagi setiap insan yang mencicipi. Dan begitupun engkau, hai Majelis ilmu! Kau membuat kami menagih untuk mencicipimu kembali. Disaat banyak orang yang mabuk dan ketagihan akan khamr dan obat-obat terlarang; di Majelis ini manusia mabuk dan akan terus haus akan ilmu-ilmu yang amat bermanfaat; akan saudara-saudara se-iman yang telah disatukan rindu-rindu yang membasahi kalbu.

Tak salah jika ku sebut kau pelangi. Kenapa engkau seperti pelangi? Atau pelangikah yang sepertimu? Sebab pelangimu itu amat menyejukkan hati kami kala merasai pertemuan denganmu. Ketika gulana kami menggunung, mungkin engkau salah satu tempat kami bercerita, yang sedikit-banyaknya mampu meredakan gulana kami. Mengapa engkau begitu menyejukkan? Mungkin dikarenakan Al-Qur’an yang senantiasa engkau ramaikan bersama awan; yang engkau baca, engkau pelajari, engkau amalkan, engkau ajarkan, engkau hafalkan, dan engkau senandungkan dengan amat syahdunya. Sebab yang ku tahu, engkau selalu
merujuk pada sabda Nabi yang syahdu terdengar di telinga kita.

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Ah, bahagia sekali rasanya pernah membersamai kalian dalam dakwah ini. Dalam dakwah yang sejatinya  tidaklah mudah; dakwah yang penuh godaan dan cobaan, dakwah yang bukan permainan belaka, dakwah yang bukan hanya menuntut harta, tapi juga jiwa dan raga. IkhwatifiLlaah, berangkatlah dengan keadaan lapang maupun sempit, dalam kondisi apapun, dalam situasi apapun. Apakah syurgaNya tak begitu menggiurkan bagimu?

Semua Karena Cinta


Abdul Wahid

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). Q.S. Al-An'aam: 59


Institut Teknologi Bandung; kampus ter-masyhur, kampus ter-indah, kampus ter-bagus, kampus ter-sopan, kampus ter-disiplin. Kampus tempat bernaungnya orang-orang terbaik dari seluruh Indonesia, kampusnya siswa-siswi hasil ‘tempaan’ BimBel, juga merupakan tempat kuliah anak-anak -yang katanya- ‘terkaya’ Bangsa, begitu kata orang tentang Institut Teknologi Bandung; kampus dambaan siswa-siswi se-Indonesia yang akan menamatkan masa SMA, kampus yang sepanjang sejarahnya mampu menetaskan engineer-engineer berkualitas yang mampu bersaing dengan engineer dari negara lain. Inilah kisahku menuju kampus idaman, kampus yang katanya berwarna-warni; kampus yang kerennya tiada tara. Saksikanlah, petualanganku mencari pelangi; mencari hujan yang sempat dicuri.
Adalah aku; satu dari ribuan orang beruntung yang berkesempatan menjejaki kampus terbaik ini. Entahlah, sampai sekarang aku juga belum tau mengapa ITB ‘menculik’ jiwa dan ragaku untuk bergabung bersamanya. Dan rasanya masih ada rasa tak pantas, jika aku harus bergabung dalam keluarga besar ITB; apalagi di fakultas besar bernama Sekolah Teknik Elektro dan Informatika. Ah, hati kecilku seringkali berbisik, “adapun yang terjadi ini; semua karena cintaNya; cinta kasih kepada hambaNya.”
Adalah aku; seorang biasa yang dilahirkan oleh orang luar biasa; orangtuaku. Ya, orangtuaku; yang senantiasa memberiku semangat, motivasi, harapan, serta angan yang membuatku kuat hingga saat ini. Merekalah; orangtua yang paling cinta pada anaknya, melebihi cinta mereka pada diri mereka sendiri. Adapun kakak-kakakku, mereka ber-empat yang senantiasa memberi dorongan secara material dan ruhaniyah untukku. Meski terkadang menyebalkan, ketahuilah; aku mencintai kalian dengan sepenuh hatiku, dan....aku bangga dan bahagia telah terlahir dari keluarga ini; keluarga yang nyaman dan membawa kenyamanan, keluarga yang damai dan membawa kedamaian, keluarga yang ceria dan membawa keceriaan; dan...ini semua karena cinta.
Ya; semua karena cinta, sejak saya mengidamkan ITB kala SMP dulu; kelas IX tepatnya. Saat itu, kakakku sedang melihat-lihat daftar Perguruan Tinggi di Indonesia, penasaran, sesekali aku melirik ke arah kertas-kertas yang kakakku lihat itu. Seluruh Perguruan Tinggi Negeri aku pelototi satu persatu, sampailah pada satu perguruan tinggi yang namanya agak mencolok; Institut Teknologi Bandung. Aku tertarik dengan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, apalagi ditambah dengan cerita dari kakakku mengenai fakultas tersebut. Dan terlintaslah sebuah angan untuk menuju kampus itu, yang lagi-lagi katanya terbaik di negeri ini. Tapi, angan tinggallah angan, mimpi hanyalah mimpi. Aku mengidamkan, tapi rasanya aku tak memiliki niat yang kuat untuk bisa masuk ke kampus itu. Sebab, aku berpikir rendah tentang diriku; mana bisa orang dari kampung pedalaman lulus di kampus se-bagus itu? Ah, mimpi. Lagi-lagi aku mimpi; mimpi aneh di siang bolong.
Semua karena cinta, ketika mimpiku tentang ITB berlanjut sampai ke SMA. Seringkali, aku melihat berita-berita tentang kehebatan kampus ganesha itu. Ah, rasanya kelas XI SMA masih belum pantas berangan-angan masuk ke kampus tersebut. Ku kuatkan hatiku, “You can do it! You can do it!” Baiklah, masalah hati sudah selesai, sekarang masalahnya berbeda. Aku tak lagi mengidamkan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, saat itu aku mengidamkan...Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati. Lah, kenapa? Ya, jelas. Fakultas itu adalah fakultas yang cukup rendah passing gradenya. Aku mengenal diriku; kemampuanku. Itu sebabnya mengapa aku memilih SITH di kelas XI.
Ini semua karena cinta, kala galau menguasai diriku. Ya, aku sudah naik ke kelas XII, masa-masa akhir di tingkat menengah atas. Di kelas XII ini, aku harus merangkai peta hidup; termasuk sesegera mungkin menentukan PTN yang akan aku tempati untuk berguru ilmu setelah menamatkan masa SMA. Di semester pertama kelas XII, aku memfokuskan diri pada Ujian Nasional yang merupakan penentu lulus atau tidaknya masa SMA. Saat itu, aku hanya memfokuskan pada UN saja, dan soal PTN, itu urusan belakangan, yang penting lulus dulu. Begitu pikirku kala itu. Di sela-sela masa belajar untuk UN, kusempatkan sedikit waktu untuk mempelajari soal-soal SNMPTN tahun-tahun lalu, serta mencari informasi beasiswa, Perguruan Tinggi Negeri, Perguruan Tinggi Kedinasan, dan informasi lain yang dirasa perlu untuk menunjang masa depanku. Aku berhasil mengonsep peta hidupku.
Dan ini semua masih karena cinta. Bulan november adalah masa-masa sulit dalam perjalanan masa SMA, selain harus mengejar prestasi akademik di Ujian Nasional, aku juga harus mendaftarkan diri di Perguruan Tinggi Kedinasan, ataupun yang sejenisnya. Lulus tak lulus, yang penting daftar dulu. Hari demi hari berlalu, aku menemukan puncak dari masa sulitku. Ayahku sakit, seringnya beliau mengeluarkan cairan dari lambungnya, dari hatinya, dari perutnya, juga dari duburnya. Cairan itu disebut darah –begitu orang bilang-. Berulang kali kami mengantarkannya ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapat pertolongan; baik itu transfusi darah, atau yang lainnya.
Semua..karena..cinta... Hm, 3 Desember 2011. Ah, rasanya aku ingat sekali dengan tanggal itu. Tanggal yang paling menyejarah dalam hidup, tanggal yang membuat hujan berkerumun membasahi tanah, tanggal yang...tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ya, tanggal itu adalah saat ayahku dipanggil oleh Allaah untuk kembali ke hadiratNya; pukul 6 pagi tepatnya. Hari sabtu, yang harusnya digunakan anak-anak untuk bermain bersama keluarga, berkumpul, dan bercengkrama. Tapi mungkin, hari itu dijadikan rindu-rindu yang membasahi kalbu. Ah, rindunya aku masa-masa itu; kala ayahku berpesan padaku untuk menjadi anak yang pintar, anak yang pintar, anak yang pintar.

Dan untuk Ayahku, ketahuilah, ada rindu yang dijahit oleh manisnya benang cinta diujung kalbu. Ada sendu dibalik malu-malu. Ada sesuatu....yang akupun tak tau apa itu. Aku rindu pada hidupmu. Pada rendahnya hatimu. Pada hangatnya pelukmu. Pada...kasih, dan sayangmu..
Semua masih karena cinta; kala pesan singkat menghujani ponselku, semua membunyikan tema yang sama, “Akhi, semoga Allaah menerima amal ibadah Ayahanda; dan semoga keluarga diberi ketabahan, kesabaran...” Ah, pesan-pesan itu, rasanya bahagia sekali, ternyata masih ada yang perhatian padaku, padahal tak banyak manfaat yang bisa kuberikan pada mereka. Malah, ada seorang teman yang sampai sekarang masih aku ingat pesannya, “Wahid, tetap semangat! Buat ayahmu tersenyum di sana. Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan menantimu di SNMPTN 2012.” Pesan itu, laksana api yang membakar semangatku untuk maju, maju, dan maju. Dan, untuk sahabat-sahabatku; pelangimu yang memabukkan itu tak akan bisa dihapus malam yang kelam sekalipun. Ana Uhibbukum fiLlaah.
Semua karena cinta yang menggunung itu; aku jadi lebih bersemangat dan siap mengahadapi halangan, juga tantangan di masa mendatang. Satu persatu masalah bisa terselesaikan. Termasuk mendaftar di SNMPTN 2012 Jalur Undangan. AlhamduliLlaah, Allaah memberiku kesempatan untuk mengikuti jalur undangan melalui jalur Bidik Misi Dikti yang diadakan sebelum Ujian Nasional. Fix, aku memilih ITB dan ITS dalam pilihan PTN di SNMPTN Jalur Undangan. Dan yang perlu diketahui adalah, aku merubah pilihanku di semester kedua kelas XII, aku memutuskan untuk memilih...Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, aku sudah memantapkan hati untuk mengambil jurusan Teknik Material di tahun kedua. Namun anehnya, aku tak meletakkan FTMD di prioritas pertama, aku menaruhnya di pilihan kedua. Pilihan pertama aku pilih Sekolah Teknik Elektro dan Informatika; dengan harapan tak lulus di pilihan pertama. Dan memang, aku pesimis untuk lulus di ITB, sebab kita semua paham, untuk masuk ke ITB itu harus mengalahkan siswa-siswi terbaik dari seluruh Indonesia; dan rasanya, orang kampung sepertiku ini tak pantas, dan mungkin akan jadi guyonan warga kampung saja.
Semua karena cintaNya yang tak terhingga yang tak bisa dihitung jumlahnya. Ujian Nasional menghampiri siswa-siswi se-Indonesia. AlhamduliLlaah, aku bisa mengerjakan soal dengan lancar, dan tak ada hambatan yang berarti. Kala hari-hari ujian Nasional selesai, aku berangkat ke Berastagi; membantu kakakku berdagang roti bakar. Lumayan, seribu dua ribu bisa mengisi pundi-pundi yang haus karena kemarau panjang. Sehari sebelum pengumuman UN, aku pulang ke Binjai karena esoknya aku harus ke sekolah untuk melihat pengumuman Ujian Nasional. The Day has come. Aku ke sekolah yang penuh cinta; SMA Negeri 2 Binjai, bersama kakakku, kami menanti pengumuman dengan harap-harap cemas. Dan, AlhamduliLlaah, aku lulus. Selesai sudah masa SMA yang indah itu. Aku harus bersiap menuju masa depan yang telah Dia rencanakan. Di hari yang sama, pengumuman SNMPTN Jalur Undangan dilaksanakan jam 17.00 sore. Memang, panitia SNMPTN mempercepat jadwal dari yang telah ditentukan. Sesampainya di rumah, tepat jam 17.00 sore, aku langsung membuka laptop dan hendak melihat pengumuman. Jujur, aku belum berani melihatnya. Aku cemas. Aku gundah gulana. Kecemasanku menggunung; hingga sampailah sepucuk pesan menghampiri ponselku, “AlhamduliLlaah, Hid. Saya lulus di Fakultas Kedokteran Univ. Sumatera Utara..” Salah seorang sahabatku lulus di Fakultas paling prestisius di Universitas tersebut. Aku bahagia, sangat bahagia. Satu persatu pesan berdatangan, dan kesemuanya memberi kabar bahagia. Akhirnya, aku beranikan diri melihat pengumuman... Perlahan ku ketik alamat websitenya, ku ketik nomor pendaftaran, lalu NISN. Dan hanya Allaah-lah yang Maha Berkehendak; aku telah merelakan hidupku padaNya, aku ridho pada apa yang diturunkanNya, dan aku hanya berharap yang terbaik dariNya. Aku terperanjak, sebuah pesan manis tampil di depan layar, “Selamat, Anda dinyatakan lulus melalui SNMPTN - Jalur Undangan di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung.” Tersentak, aku langsung sujud syukur dan teriak keras; menangis dan tak bisa berbuat apa-apa.

“Oh, Allaah... Berjuta kata syukur terucap-pun tak akan bisa mewakili nikmat-Mu yang teramat banyak..”

...sebab semua karena cinta...
BismiLlaah, semoga bermanfaat; jangan lupa komen untuk perbaikan ke depannya :)

Saturday, 13 April 2013

Karena Pribadimu; ialah Cermin dari Hatimu


Abdul Wahid

“Karena menanam kebaikan ialah memelihara hati; kau siram ia dengan sholatmu, kau jadikan hafalanmu sebagai pupuknya, kau jadikan iman sebagai cahayanya. Lalu kau menyungging senyum sebab yang kau tau buahnya ialah akhlaq yang manis, renyah, dan lezat; rahmat bagi sekalian alam.”

Entah kenapa, setiap kali membahas sesuatu, apapun itu, saya selalu menyelaraskannya, dan juga menyangkut-pautkannya dengan hati. Ya, sebab yang saya tau, hati itu ialah yang inti; yang paling dalam, yang paling benar, yang paling jujur, yang paling suka menebar kebaikan. Ialah hati; yang penuh damai, penuh kelembutan, penuh ketulusan. Sebab hati, hanya bisa disentuh oleh hati juga. Dan hati ialah inti dari akhlaq yang mulia; inti dari pribadi muslim yang sejati.

Sepuluh -10- Ciri Pribadi Muslim yang Ideal
-Muwashoffat Tarbiyah-


Salimul Aqidah (Good Faith) – Aqidah yang Bersih
Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan- ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam’ (QS 6:162). Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.

Sahihul Ibadah (Right Devotion) – Ibadah yang Benar
Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: ’shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.’ Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

Matinul Khuluq (Strong Character) – Akhlaq yang Kokoh
Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setkal muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al- Qur’an, Allah berfirman yang artinya: ‘Dan sesungguhnya kamu benar- benar memiliki akhlak yang agung’ (QS 68:4).

Qowiyyul Jismi (Phisical Power) – Kekuatan Jasmani
Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk- bentuk perjuangan lainnya. Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: ‘Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah’ (HR. Muslim).

Mutsaqqoful Fikri (Thinking Brilliantly) – Wawasan luas (Intelektualitas)
Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia antuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: ‘pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219). Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatka pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah:samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).

Mujuhadatun Linafsihi (Continence) – Berjuang Melawan Hawa Nafsu
Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatun linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setkal diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beragmana seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).

Haritsun'ala Waqtihi (Good Time Management) – Pandai Menjaga Waktu
Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, Yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan:
‘Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.’ Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

Munazhzhamun fi Syu'unihi (Well Organized) – Teratur dalam Suatu Urusan
Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu udusán dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasih ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.

Qodirun'alal Kasbi (Independent) – Mandiri
Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena itu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memilik keutamaan yang sangat tinggi. Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.

Naafi'un Lighoirihi (Giving Contribution) – Bermanfaat bagi orang lain
Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tirák mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir).



Saturday, 15 December 2012

Boleh Kusebut Kau Pelangi?


Abdul Wahid

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
Q.S. At-Taubah: 41 


Bermula di tempat itu, Mesjid Salman ITB; sebuah masjid yang elok didengar di penjuru alam; masjid yang aku tak habis pikir akannya sejak awal berkenalan di kota ini, kota yang juga amat masyhur terngiang di pelosok Negeri; kota Bandung. Adapun masjid ini, merupakan mesjid yang amat memesona bagiku; dan mungkin bagi banyak orang lainnya; termasuk bagi sahabat-sahabat kami yang ada di Majelis Ta’lim Salman ITB. Sebab, bermula dari masjid inilah sejarah baru hidup kami terbentuk.

Kala SMA dulu, aku sempat mengaktifkan diri di sebuah kelompok yang terdengar asing kalau kita baru pertama kali mendengarnya, sebut saja namanya Rohis. Ya, Rohis; yang merupakan singkatan dari Kerohanian Islam. Asin, pahit, asam, manis, begitu yang aku rasakan sejak mengikuti Rohis. Ketika keadaan harus dibenturkan dengan realita yang ada di masyarakat pada umumnya, dan di keluarga pada khususnya. Memang, keluarga kami bukanlah keluarga yang terlahir dari keturunan para Nabi dan Rasul, tidak juga para syuhada, apalagi para ulama. Keluarga kami terlahir sederhana, dari pengetahuan agama yang sederhana pula. Dan ketika itulah aku ditabrakkan pada sebuah kenyataan yang amat sulit. Namun, aku percaya pada janjiNya, bahwa, “..bersama kesulitan itu ada kemudahan..” Ah, rasanya kesulitan-kesulitan itupun sedikit demi sedikit sirna, dan Puji Syukur hanya pada Allaah yang sampai saat ini masih mengizinkanku untuk merasai indahnya Islam yang tak tergambar oleh kata-kata, dan ketahuilah; bahwa aku bangga terlahir sebagai muslim.

Bertamat SMA, aku melanjutkan ke itb, dan hendak melanjutkan kelompok halaqoh yang dulu sempat ditanam, dan lagi, Puji Syukur pada Allaah yang Maha Mempermudah segala urusan. Dan akhirnya aku menemukan kelompok halaqoh baru, dengan saudara-saudara baru, yang sebenarnya telah lama dipersatukan lewat do’a, dan juga ukhuwah Islamiyah. Dari sinilah mulanya aku mengenal Majelis Ta’lim Salman ITB; sebuah kelompok kajian yang disebut RasuluLlaah sebagai taman-taman syurga; yang menjadi tonggak sejarah baru bagi kami; para penggenggam hujan, para pejuang Al-Qur’an, para Anggota Muda Majelis Ta’lim Salman ITB. Dan apakah aku boleh memanggilmu pelangi?

Ya, tak salah jika ku sebut kau pelangi. Kau ibarat pelangi; yang warninya amat dinantikan; yang begitu dirindukan ummat setelah hujan turun. Dan Majelis ini pun demikian, amat dinantikan kala gaungnya tak terdengung lagi. Sebab, antusiasme dan semangat kami –para anggota muda- begitu menggema, hingga mungkin menggetarkan samudera-samudera yang luas terbentang; meruntuhkan gunung-gunung yang tinggi menjulang, dan memang itulah yang aku senangi dari jiwa muda, sampai awan-awan pun mungkin cemburu pada semangat kami yang begitu menggelora.

Mungkin tak salah jika ku sebut kau pelangi. Dan kau memang pelangi; yang warnanya amat memabukkan bagi setiap insan yang mencicipi. Dan begitupun engkau, hai Majelis ilmu! Kau membuat kami menagih untuk mencicipimu kembali. Disaat banyak orang yang mabuk dan ketagihan akan khamr dan obat-obat terlarang; di Majelis ini manusia mabuk dan akan terus haus akan ilmu-ilmu yang amat bermanfaat; akan saudara-saudara se-iman yang telah disatukan rindu-rindu yang membasahi kalbu.

Tak salah jika ku sebut kau pelangi. Kenapa engkau seperti pelangi? Atau pelangikah yang sepertimu? Sebab pelangimu itu amat menyejukkan hati kami kala merasai pertemuan denganmu. Ketika gulana kami menggunung, mungkin engkau salah satu tempat kami bercerita, yang sedikit-banyaknya mampu meredakan gulana kami. Mengapa engkau begitu menyejukkan? Mungkin dikarenakan Al-Qur’an yang senantiasa engkau ramaikan bersama awan; yang engkau baca, engkau pelajari, engkau amalkan, engkau ajarkan, engkau hafalkan, dan engkau senandungkan dengan amat syahdunya. Sebab yang ku tahu, engkau selalu
merujuk pada sabda Nabi yang syahdu terdengar di telinga kita.

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Ah, bahagia sekali rasanya pernah membersamai kalian dalam dakwah ini. Dalam dakwah yang sejatinya  tidaklah mudah; dakwah yang penuh godaan dan cobaan, dakwah yang bukan permainan belaka, dakwah yang bukan hanya menuntut harta, tapi juga jiwa dan raga. IkhwatifiLlaah, berangkatlah dengan keadaan lapang maupun sempit, dalam kondisi apapun, dalam situasi apapun. Apakah syurgaNya tak begitu menggiurkan bagimu?

Monday, 1 October 2012

Semua Karena Cinta


Abdul Wahid

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). Q.S. Al-An'aam: 59


Institut Teknologi Bandung; kampus ter-masyhur, kampus ter-indah, kampus ter-bagus, kampus ter-sopan, kampus ter-disiplin. Kampus tempat bernaungnya orang-orang terbaik dari seluruh Indonesia, kampusnya siswa-siswi hasil ‘tempaan’ BimBel, juga merupakan tempat kuliah anak-anak -yang katanya- ‘terkaya’ Bangsa, begitu kata orang tentang Institut Teknologi Bandung; kampus dambaan siswa-siswi se-Indonesia yang akan menamatkan masa SMA, kampus yang sepanjang sejarahnya mampu menetaskan engineer-engineer berkualitas yang mampu bersaing dengan engineer dari negara lain. Inilah kisahku menuju kampus idaman, kampus yang katanya berwarna-warni; kampus yang kerennya tiada tara. Saksikanlah, petualanganku mencari pelangi; mencari hujan yang sempat dicuri.
Adalah aku; satu dari ribuan orang beruntung yang berkesempatan menjejaki kampus terbaik ini. Entahlah, sampai sekarang aku juga belum tau mengapa ITB ‘menculik’ jiwa dan ragaku untuk bergabung bersamanya. Dan rasanya masih ada rasa tak pantas, jika aku harus bergabung dalam keluarga besar ITB; apalagi di fakultas besar bernama Sekolah Teknik Elektro dan Informatika. Ah, hati kecilku seringkali berbisik, “adapun yang terjadi ini; semua karena cintaNya; cinta kasih kepada hambaNya.”
Adalah aku; seorang biasa yang dilahirkan oleh orang luar biasa; orangtuaku. Ya, orangtuaku; yang senantiasa memberiku semangat, motivasi, harapan, serta angan yang membuatku kuat hingga saat ini. Merekalah; orangtua yang paling cinta pada anaknya, melebihi cinta mereka pada diri mereka sendiri. Adapun kakak-kakakku, mereka ber-empat yang senantiasa memberi dorongan secara material dan ruhaniyah untukku. Meski terkadang menyebalkan, ketahuilah; aku mencintai kalian dengan sepenuh hatiku, dan....aku bangga dan bahagia telah terlahir dari keluarga ini; keluarga yang nyaman dan membawa kenyamanan, keluarga yang damai dan membawa kedamaian, keluarga yang ceria dan membawa keceriaan; dan...ini semua karena cinta.
Ya; semua karena cinta, sejak saya mengidamkan ITB kala SMP dulu; kelas IX tepatnya. Saat itu, kakakku sedang melihat-lihat daftar Perguruan Tinggi di Indonesia, penasaran, sesekali aku melirik ke arah kertas-kertas yang kakakku lihat itu. Seluruh Perguruan Tinggi Negeri aku pelototi satu persatu, sampailah pada satu perguruan tinggi yang namanya agak mencolok; Institut Teknologi Bandung. Aku tertarik dengan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, apalagi ditambah dengan cerita dari kakakku mengenai fakultas tersebut. Dan terlintaslah sebuah angan untuk menuju kampus itu, yang lagi-lagi katanya terbaik di negeri ini. Tapi, angan tinggallah angan, mimpi hanyalah mimpi. Aku mengidamkan, tapi rasanya aku tak memiliki niat yang kuat untuk bisa masuk ke kampus itu. Sebab, aku berpikir rendah tentang diriku; mana bisa orang dari kampung pedalaman lulus di kampus se-bagus itu? Ah, mimpi. Lagi-lagi aku mimpi; mimpi aneh di siang bolong.
Semua karena cinta, ketika mimpiku tentang ITB berlanjut sampai ke SMA. Seringkali, aku melihat berita-berita tentang kehebatan kampus ganesha itu. Ah, rasanya kelas XI SMA masih belum pantas berangan-angan masuk ke kampus tersebut. Ku kuatkan hatiku, “You can do it! You can do it!” Baiklah, masalah hati sudah selesai, sekarang masalahnya berbeda. Aku tak lagi mengidamkan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, saat itu aku mengidamkan...Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati. Lah, kenapa? Ya, jelas. Fakultas itu adalah fakultas yang cukup rendah passing gradenya. Aku mengenal diriku; kemampuanku. Itu sebabnya mengapa aku memilih SITH di kelas XI.
Ini semua karena cinta, kala galau menguasai diriku. Ya, aku sudah naik ke kelas XII, masa-masa akhir di tingkat menengah atas. Di kelas XII ini, aku harus merangkai peta hidup; termasuk sesegera mungkin menentukan PTN yang akan aku tempati untuk berguru ilmu setelah menamatkan masa SMA. Di semester pertama kelas XII, aku memfokuskan diri pada Ujian Nasional yang merupakan penentu lulus atau tidaknya masa SMA. Saat itu, aku hanya memfokuskan pada UN saja, dan soal PTN, itu urusan belakangan, yang penting lulus dulu. Begitu pikirku kala itu. Di sela-sela masa belajar untuk UN, kusempatkan sedikit waktu untuk mempelajari soal-soal SNMPTN tahun-tahun lalu, serta mencari informasi beasiswa, Perguruan Tinggi Negeri, Perguruan Tinggi Kedinasan, dan informasi lain yang dirasa perlu untuk menunjang masa depanku. Aku berhasil mengonsep peta hidupku.
Dan ini semua masih karena cinta. Bulan november adalah masa-masa sulit dalam perjalanan masa SMA, selain harus mengejar prestasi akademik di Ujian Nasional, aku juga harus mendaftarkan diri di Perguruan Tinggi Kedinasan, ataupun yang sejenisnya. Lulus tak lulus, yang penting daftar dulu. Hari demi hari berlalu, aku menemukan puncak dari masa sulitku. Ayahku sakit, seringnya beliau mengeluarkan cairan dari lambungnya, dari hatinya, dari perutnya, juga dari duburnya. Cairan itu disebut darah –begitu orang bilang-. Berulang kali kami mengantarkannya ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapat pertolongan; baik itu transfusi darah, atau yang lainnya.
Semua..karena..cinta... Hm, 3 Desember 2011. Ah, rasanya aku ingat sekali dengan tanggal itu. Tanggal yang paling menyejarah dalam hidup, tanggal yang membuat hujan berkerumun membasahi tanah, tanggal yang...tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ya, tanggal itu adalah saat ayahku dipanggil oleh Allaah untuk kembali ke hadiratNya; pukul 6 pagi tepatnya. Hari sabtu, yang harusnya digunakan anak-anak untuk bermain bersama keluarga, berkumpul, dan bercengkrama. Tapi mungkin, hari itu dijadikan rindu-rindu yang membasahi kalbu. Ah, rindunya aku masa-masa itu; kala ayahku berpesan padaku untuk menjadi anak yang pintar, anak yang pintar, anak yang pintar.

Dan untuk Ayahku, ketahuilah, ada rindu yang dijahit oleh manisnya benang cinta diujung kalbu. Ada sendu dibalik malu-malu. Ada sesuatu....yang akupun tak tau apa itu. Aku rindu pada hidupmu. Pada rendahnya hatimu. Pada hangatnya pelukmu. Pada...kasih, dan sayangmu..
Semua masih karena cinta; kala pesan singkat menghujani ponselku, semua membunyikan tema yang sama, “Akhi, semoga Allaah menerima amal ibadah Ayahanda; dan semoga keluarga diberi ketabahan, kesabaran...” Ah, pesan-pesan itu, rasanya bahagia sekali, ternyata masih ada yang perhatian padaku, padahal tak banyak manfaat yang bisa kuberikan pada mereka. Malah, ada seorang teman yang sampai sekarang masih aku ingat pesannya, “Wahid, tetap semangat! Buat ayahmu tersenyum di sana. Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan menantimu di SNMPTN 2012.” Pesan itu, laksana api yang membakar semangatku untuk maju, maju, dan maju. Dan, untuk sahabat-sahabatku; pelangimu yang memabukkan itu tak akan bisa dihapus malam yang kelam sekalipun. Ana Uhibbukum fiLlaah.
Semua karena cinta yang menggunung itu; aku jadi lebih bersemangat dan siap mengahadapi halangan, juga tantangan di masa mendatang. Satu persatu masalah bisa terselesaikan. Termasuk mendaftar di SNMPTN 2012 Jalur Undangan. AlhamduliLlaah, Allaah memberiku kesempatan untuk mengikuti jalur undangan melalui jalur Bidik Misi Dikti yang diadakan sebelum Ujian Nasional. Fix, aku memilih ITB dan ITS dalam pilihan PTN di SNMPTN Jalur Undangan. Dan yang perlu diketahui adalah, aku merubah pilihanku di semester kedua kelas XII, aku memutuskan untuk memilih...Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, aku sudah memantapkan hati untuk mengambil jurusan Teknik Material di tahun kedua. Namun anehnya, aku tak meletakkan FTMD di prioritas pertama, aku menaruhnya di pilihan kedua. Pilihan pertama aku pilih Sekolah Teknik Elektro dan Informatika; dengan harapan tak lulus di pilihan pertama. Dan memang, aku pesimis untuk lulus di ITB, sebab kita semua paham, untuk masuk ke ITB itu harus mengalahkan siswa-siswi terbaik dari seluruh Indonesia; dan rasanya, orang kampung sepertiku ini tak pantas, dan mungkin akan jadi guyonan warga kampung saja.
Semua karena cintaNya yang tak terhingga yang tak bisa dihitung jumlahnya. Ujian Nasional menghampiri siswa-siswi se-Indonesia. AlhamduliLlaah, aku bisa mengerjakan soal dengan lancar, dan tak ada hambatan yang berarti. Kala hari-hari ujian Nasional selesai, aku berangkat ke Berastagi; membantu kakakku berdagang roti bakar. Lumayan, seribu dua ribu bisa mengisi pundi-pundi yang haus karena kemarau panjang. Sehari sebelum pengumuman UN, aku pulang ke Binjai karena esoknya aku harus ke sekolah untuk melihat pengumuman Ujian Nasional. The Day has come. Aku ke sekolah yang penuh cinta; SMA Negeri 2 Binjai, bersama kakakku, kami menanti pengumuman dengan harap-harap cemas. Dan, AlhamduliLlaah, aku lulus. Selesai sudah masa SMA yang indah itu. Aku harus bersiap menuju masa depan yang telah Dia rencanakan. Di hari yang sama, pengumuman SNMPTN Jalur Undangan dilaksanakan jam 17.00 sore. Memang, panitia SNMPTN mempercepat jadwal dari yang telah ditentukan. Sesampainya di rumah, tepat jam 17.00 sore, aku langsung membuka laptop dan hendak melihat pengumuman. Jujur, aku belum berani melihatnya. Aku cemas. Aku gundah gulana. Kecemasanku menggunung; hingga sampailah sepucuk pesan menghampiri ponselku, “AlhamduliLlaah, Hid. Saya lulus di Fakultas Kedokteran Univ. Sumatera Utara..” Salah seorang sahabatku lulus di Fakultas paling prestisius di Universitas tersebut. Aku bahagia, sangat bahagia. Satu persatu pesan berdatangan, dan kesemuanya memberi kabar bahagia. Akhirnya, aku beranikan diri melihat pengumuman... Perlahan ku ketik alamat websitenya, ku ketik nomor pendaftaran, lalu NISN. Dan hanya Allaah-lah yang Maha Berkehendak; aku telah merelakan hidupku padaNya, aku ridho pada apa yang diturunkanNya, dan aku hanya berharap yang terbaik dariNya. Aku terperanjak, sebuah pesan manis tampil di depan layar, “Selamat, Anda dinyatakan lulus melalui SNMPTN - Jalur Undangan di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung.” Tersentak, aku langsung sujud syukur dan teriak keras; menangis dan tak bisa berbuat apa-apa.

“Oh, Allaah... Berjuta kata syukur terucap-pun tak akan bisa mewakili nikmat-Mu yang teramat banyak..”

...sebab semua karena cinta...